Kolom
il Capo
Senin, 23 Mei 2005 14:52 WIB
Den Haag - Wajah il capo, redup. Sudah terendus bukti-buktinya, mengapa masih mengotori diri dengan berbohong pula? Malu? Terlambat, il capo!Sampai sebelum dicokok lembaga super, KPK, orang masih geleng-geleng kepala. Ia tetap mbededeng alias tak bergeming. Meskipun anak buahnya dan para rekanan sudah mengaku, il capo, pak ketua, kepala jemaah KPU, itu tetap bilang tidak tahu.Kesannya, ia sangat licin, betul-betul seperti digambarkan pepatah Belanda, "Hij is zo glad als een aal in een emmer snot, dia begitu licin seperti belut di ember penuh ingus," Bayangkan, belut saja sudah sangat licin, masih dimasukkan ke ember penuh ingus pula! Ayo tangkap kalau bisa. Pesimis. Gelagatnya il capo tak akan terjamah. Namun ternyata KPK punya cara lebih pintar: dengan jurus 'menebar abu menangkap belut', il capo akhirnya dibekuk.Tidak tahu. Tidak tahu. Jawaban serba 'tidak tahu' melintaskan pada saya sosok ber-IQ jongkok, di bawah 52. Tetapi bukankah il capo seorang profesor, dari universitas ternama pula? Bagaimana mungkin? Mungkin tidak mungkin. Orang yang ketahuan berbuat tercela, apalagi memiliki status sosial terpandang menjulang setinggi Monas, biasanya memang akan bereaksi seperti kehilangan akal waras. Panik. Mau ditaruh di mana mukanya? Apa nanti kata kolega? Apa akibatnya kalau kedudukan dan jabatannya dicopot? Bagaimana dengan beban mental istri dan anak-anak? Apa kata tetangga dan masyarakat luas? Bagaimana reaksi kawan anak-anak di kampus atau sekolah? "Hei, bapakmu koruptor ya?" Duh!, hukuman pengadilan belum jatuh, tapi hukuman masyarakat sudah pasti.Inilah antara lain yang dapat menerangkan mengapa wajah orang-orang seperti il capo, menjadi keruh, redup, gelap tak bercahaya. Senyum yang sebelumnya terus menghiasai wajahnya, cenderung aristrokratis, kini hilang menguap. Ketemu orang saja sudah gelagapan, salah tingkah. Kalau hari kemarin ia selalu ingin menjadi perhatian media, hari ini ia ingin sembunyi, tidak ingin dilihat oleh siapa-siapa, kalau bisa selamanya. Tapi bagaimana ia harus menyembunyikan istri dan anak-anaknya? Itu semua terus berkelebat, membuatnya stres, juga tak bisa tidur.Berat. Amat sangat berat. Makanya tidak aneh jika sebagian orang-orang seperti il capo mengalami sakit akut, mendadak. Jantungnya yang hari kemarin sesehat jantung seorang atlit, tiba-tiba berdenyut liar, tekanan darahnya melesat naik. Sebagiannya lagi memilih bunuh diri. Tak kuat menanggung beban psikis.Sayang sekali, akibat yang sangat berat itu baru disadari setelah bubur tak bisa diubah lagi jadi nasi. Terlambat. Sesal dulu pendapatan, sesal kemudian hotel prodeo tempatnya. Ketika sedang senang, menikmati lezatnya bancaan, bisikan 'jangan' dari hari nurani dikesampingkan. Seolah ia tuhan kecil, dapat mengatur segala hal.Bagaimana dengan kawan-kawan il capo yang belum terjamah? Sebaiknya langsung menghadap presiden untuk mengakui kesalahan, lalu meletakkan jabatan. Percuma saja mungkir dan terus memaksa lidah untuk membantah. Meskipun lidah ditopang delapan otot liat, bisa menipis, menebal, memanjang, memendek, ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah, dan bisa dipaksa untuk menjadi senjata berdusta, namun pada akhirnya akan jebol juga.Bagi presiden juga tidak ada pilihan lain. Jika ada anggota kabinet menjadi tersangka korupsi, dia harus diberhentikan. Jika tidak, berarti presiden ingkar kontrak dengan PKS, salah satu pilar kekuasaannya. Jika PKS tidak berani mengambil sanksi, tidak istiqamah, maka dua-duanya harus siap menghadapi hukuman dari masyarakat dan pers. Pers, meminjam idiom Belanda, harus berlomba-lomba mengasah penanya dan mengisinya dengan tinta beracun untuk menghukum mereka agar tidak dipercaya lagi pada pemilu berikutnya.Ayo presiden, mumpung rakyat masih percaya Anda bisa!
(es/)











































