DetikNews
Kamis 05 Oktober 2017, 17:27 WIB

Melihat Konsep Pengungsian Sister Village untuk Warga Gunung Agung

Prins David Saut - detikNews
Melihat Konsep Pengungsian Sister Village untuk Warga Gunung Agung Foto: Pengungsi Gunung Agung (David-detikcom)
Karangasem - Konsep pengungsian sister village ala Yogyakarta mengilhami Gubernur Bali Made Mangku Pastika untuk para pengungsi Gunung Agung. Selain aspek kenyamanan, aspek sosial lainnya juga menjadi andalan konsep pengungsian antar desa ini.

Pantauan detikcom di Pos Pengungsian Desa Tegaltawang, Sidemen, Karangasem, Bali, Kamis (5/10/2017), terdapat 212 pengungsi dari Kecamatan Selat zona merah 9 kilometer. Dari dua ratusan pengungsi tersebut ada 106 anak-anak, 86 lansia, dan 9 orang ibu hamil. Konsep sister village ini adalah konsep lokasi pengungsian yang dekat dengan kantor pemerintahan desa, puskesmas, polsek dan objek vital lainnya.

"Semuanya di sini kan center-nya, baik itu dalam bidang kesehatan, keamanan dan penerangan semua dilayani dengan baik, termasuk pendidikan," kata Perbekel (Kepala Desa) Tegaltawang I Nyoman Sukarna kepada detikcom.

Pos pengungsian menggunakan balai desa yang teduh dan berada di jalan utama. Terdapat fasilitas kamar mandi dengan air bersih, fasilitas dapur dengan kompor gas lebih dari sepasang serta bangunan permanen yang mampu menghangatkan para pengungsi saat malam hari.

"Nah di samping sekira 200 meter dari pos ini ada Puskesmas yang stan by 24 jam, dan ada relawan di setiap posko termasuk dari Pemprov Bali 5 orang per hari," ujar Sukarna.

Layanan Puskesmas 24 jam siap menerima pengungsi yang sakit seperti demam, flu atau penyakit berat lainnya. Walau demikian, beberapa pengungsi kembali ke desanya di Selat pada siang hari namun kembali ke pengungsian pada malam hari.

"Ibu Gubernur Bali dan Bapak Gubernur Bali sempat datang dan menghibur para pengungsi, termasuk istri dari Bapak Kapolri juga sudah datang. Sister village ini agar tepat sasaran dan distribusi logistik lebih mudah," ucap Sukarna.

Melihat Konsep Pengungsian Sister Village untuk Warga Gunung AgungFoto: Pengungsi Gunung Agung (David-detikcom)


Melihat Konsep Pengungsian Sister Village untuk Warga Gunung AgungFoto: Pengungsi Gunung Agung (David-detikcom)


Kantor Polsek Sidemen juga tidak terlalu jauh dari pos pengungsian yang menampung pengungsi dari Dusun Duda Utara tersebut. Sebagian besar memang para pengungsi berasal dari dusun tersebut dan memilih pos pengungsian itu karena banyak kerabat dan keluarga serta tetangga dari dusun yang sama.

"Sistem sister village ini agar tepat sasaran dan di sini banyak dari Selat mengungsi," ungkap Sukarna.

Salah satu pengungsi bernama Komang mengaku konsep sister village ini memudahkan dirinya dan pengungsi lainnya untuk mengontrol rumah. Hal ini karena dusun mereka lebih dekat dan kegiatan selalu ada untuk para pengungsi.

"Memang jadi lebih mudah kita, walau mengungsi tapi ada kegiatan untuk anak-anak ditampung belajar di sekolah sini dan ibu-ibu bisa membuat canang atau menjual makanan ringan," ungkap Komang.




Dilihat di lokasi, para wanita dari Selat di pengungsian tampak sibuk membuat snack dan canang yang lalu dijual di Pasar Sidemen. Salah satu pengungsi bernama Ni Komang Sucandri, mengatakan, suaminya tak berada di pengungsian karena setiap siang menengok rumahnya. Suaminya setiap petang kembali ke pengungsian dan anak keduanya yang duduk di bangku SMP bersekolah di salah satu SMP di Sidemen.

"Suami saya melihat ayam dan anjing di rumah pagi-pagi. Baginya sudah dijual setengah harga. Ini saya mengungsi untuk menyelamatkan anak-anak saja, anak pertama kuliah di Denpasar dan anak terakhir masih 4 tahun ini," ujar Sucandri saat ditemui di l
(vid/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed