Surat Ayah Penderita Kanker Stadium 4 yang Klaimnya Ditolak Allianz

Mei Amelia R - detikNews
Kamis, 05 Okt 2017 16:56 WIB
Gedung Allianz di Jl HR Rasuna Said, Jakarta (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Aksan Jaya Putra mengajukan keberatan atas penolakan klaim polis asuransi Allianz untuk pengobatan putranya yang menderita kanker neuroblastoma, Fardan Putra Aksan (5). Berulang kali Aksan mengirimkan surat untuk pencairan klaim asuransi, tetapi tetap ditolak Allianz.

"Yang ada Allianz menolak klaim asuransi, dengan alasan penyakit yang diderita putra klien kami bukan kanker, melainkan tumor. Padahal kanker neuroblastoma termasuk solid cancer," ujar pengacara Aksan, Herdyan Saksono kepada detikcom, Kamis (5/10/2017).

Herdyan mengatakan, kliennya telah berulang kali mencoba melakukan berkomunikasi dengan pihak Allianz. Namun, yang Aksan kembali dapatkan penolakan.

"Sudah berulang kali klien saya mengirimkan surat, meminta pencairan klaim, tetapi jawabannya tetap ditolak," imbuh Aksan.

Hingga akhirnya, pada 8 November 2016, Aksan mengirimkan surat keberatan penolakan atas klaim asuransi tersebut. Dalam surat yang juga ditembuskan ke Dirut PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Joachim Wessling itu, Aksan menjelaskan kronologi penyakit yang diderita putranya sampai akhirnya divonis menderita kanker neuroblastoma stadium 4.

Sebelum diketahui menderita kanker, Fardan mengalami demam tinggi, pada tanggal 17 Juni 2015. Fardan sudah dibawa ke beberapa rumah sakit, tetapi demamnya tidak kunjung menurun dan justru kondisinya memburuk. Aksan adalah pemegang polis asuransi dengan tertanggung anaknya, sejak 31 Desember 2015.

Kanker itu diketahui setelah tim dokter yang merawat Fardan menemukan kejanggalan di kepala Fardan, yaitu munculnya benjolan yang tidak biasa. Dokter langsung menyarankan melakukan USG Abdomen dan hasilnya hari itu juga ada benjolan seperti tumor letaknya di antara ginjal dan hati.

"Tanggal 21 Juli 2016 kemudian dilakukan CT Scan dan MRI untuk memastikan benjolan tersebut. Hasilnya sangat mengagetkan dan menyakitkan hati kami bahwa putra kami mengidap 'suspect neuroblastoma stage 4' dan sel kankernya diperkirakan telah menyebar di seluruh tubuh Fardan dengan kemungkinan sembuh hanya 30 persen," tulis Aksan dalam surat yang dikirim ke Allianz seperti diperlihatkan Herdyan kepada detikcom.

Dalam surat itu pula, Aksan menyampaikan kekecewaannya atas penolakan klaim oleh Allianz. "Namun di tengah-tengah kesulitan kami menghadapi musibah ini, kami mendapat surat dari Allianz bahwa klaim kami ditolak dengan alasan bahwa TUMOR membutuhkan masa tunggu 12 bulan sementara merujuk pada diagnosa Fardan (tertanggung) adalah KANKER NEUROBLASTOMA yang jelas-jelas merupakan 'solid cancer'," tulisnya lagi.


Berikut selengkapnya surat dari Aksan kepada Allianz tersebut:

Singapore, 8 November 2016
Kepada:
Yth. PT Asuransi Allianz Life Indonesia
Jl. HR Rasuna Said
Kawasan Kuningan Persada Super Blok 2
Jakarta Selatan 12980
UP: Yth. Bapak Joachim Wessling (Direktur Utama)

Dengan hormat,

Saya adalah pemegang polisi nomor (menuliskan nomor polis, red) PT Asuransi Allianz Life Indonesia (selanjutnya disebut Allianz) dengan tertanggung anak saya sendiri yang bernama Fardan Putra Aksan. Saya membeli polis tersebut tertanggal 28 Desember 2015. Proses untuk membuka polis dimaksud sudah kami lalui dengan seluruh informasi riwayat kesehatan tertanggung kami lampirkan semua. Polis tersebut kemudian terbit tanggal 31 Desember 2015.

Pada tanggal 17 Juni 2016 putra kami mengalami demam tinggi dengan kondisi sangat pucat. Awalnya kami pikir hanya demam biasa karena anak kami sebelumnya jarang sakit lalu kami berikan parasetamol namun demam tidak kunjung turun malah kondisinya semakin memburuk. Tanggal 22 Juli kami bawa ke dr. Yenni di Kendari kemudian disarankan untuk cek darah lalu hasilnya ternyata HB sangat rendah yaitu 7,9. Dokter langsung merujuk Fardan ke RS Bunda di Jakarta.

Tanggal 23 Juni 2016 kami berangkat ke Jakarta dan langsung menemui dr. Nana Sukarna di RS Bunda Jakarta (kebetulan praktek hari itu) dan langsung disuruh untuk rawat inap. Selama rawat inap Fardan cek darah dan hasilnya HB tetap 7,8 kemudian melakukan transfusi darah untuk pertama kali, lalu pada tanggal 28 Juli 2016 melakukan BMA di RSCM oleh dr Andria Murti namun hasil masih belum diketahui penyebab sakit dan HB yang turun hingga pada tanggal 1 Juli 2016 kami pun diizinkan pulang.

Tanggal 17 Juli 2016 keadaan Fardan kembali memburuk malah makin parah dari sebelumnya, mata mulai membengkak seperti terdorong keluar, muka pucat dan kondisi sangat lemah. Tidak mau ambil resiko kali pun kembali membawa Fardan ke RS Bunda Jakarta, kali ini ditangani oleh dr. Markus M Danusantoso dan dr. Andria Murti. Kembali melakukan tes darah hasilnya HB 6,1 lalu transfusi darah kembali. Sehari kemudian ada kejanggalan pada kepala Fardan yaitu munculnya benjolan yang tidak biasa, dokter langsung menyarankan melakukan USG Abdomen dan hasilnya hari itu juga ada benjolan seperti tumor letaknya diantara ginjal dan hati, tanggal 21 Juli 2016 kemudian dilakukan CT Scan dan MRI untuk memastikan benjolan tersebut. Hasilnya sangat mengagetkan dan menyakitkan hati kami bahwa putra kami mengidap "suspect neuroblastoma stage 4" dan sel kankernya diperkirakan telah menyebar diseluruh tubuh Fardan dengan kemungkinan sembuh hanya 30% (Hasil CT Scan dan MRI terlampir*).

Setelah berdiskusi dengan dr. Markus dan dr. Andria Murti kami sepakat untuk merujuk Fardan ke KK Women's and Children Hospital (KKH) di Singapore. Tanggal 23 Juli 2015 siang kami berangkat ke Singapore, tiba disana kami langsung menuju ke KKH dan diterima dengan sangat baik karena rupanya dr. Markus dan dr. Andria sebelumnya telah mengirimkan rekam medis Fardan dan telah berkomunikasi dengan pihak HHI dan dr. Soh Shui Yen yang hingga kini kami menulis surat ini merawat dan bertanggung jawab atas pengobatan Fardan selama di KKH.

Tanggal 25 Juli 2016 Fardan melalukan biopsi oleh dr. Amos Loh bersamaan dengan itu dilakukan jg BMA oleh dr. Soh Shui Yen dan hasilnya dipastikan bahwa Fardan mengidap CANCER NEUROBLASTOMA STAGE 4 dengan penyebaran sel kanker di sumsum tulang mencapai >90% (data hasil biopsi dan BMA terlampir**).

Setelah meeting dengan tom dokter pncology KKH dipimpin oleh dr. Soh Shui Yen kami pun sepakat untuk melanjutkan pengobatan di KKH. Tanggal 28 Juli 2016 dimulai kemo pertama dan selesai tanggal 31 Juli. Tanggal 1 Agustus 2016 Fardan melakukan MIBG Test di Singapore General Hospital atas rujukan dr. Soh dari KKH dan hasilnya kembali sangat mengagetkan kami bahwa sel kanker telah menyebar ke hampir seluruh tubuh Fardan (terlampir hasil MIBG Test ***).

Tanpa terpengaruh hasil-hasil tersebut kami sebagai orang tua tidak akan menyerah dan tetap akan melanjutkan pengobatan Fardan sampai tuntas sembuh 100% apapun hasil dan resikonya termasuk kemungkinan biaya yang akan sangat besar, kami memilih KKH sebagai tempat pengobatan yang tepat. Kami sampaikan pula bahwa hungga saat ini progres penyembuhan Fardan sangat maju dan positif, hal ini juga sangat diapresiasi oleh tim dokter yang menangani Fardan sebagai suatu prestasi dan kemajuan dalam bidang kedokteran dimana sebelumnya sebagian sampel hasil biopsi Fardan kami izinkan untuk diteliti oleh pihak HHK tentunya untuk kemajuan pengobatan jenis penyakit tersebut.

Namun di tengah-tengah kesulitan kami menghadapi musibah ini, kami mendapat surat dari Allianz bahwa klaim kami ditolak dengan alasan bahwa TUMOR membutuhkan masa tunggu 12 bulan sementara merujuk pada diagnosa Fardan (tertanggung) adalah KANKER NEUROBLASTOMA yang jelas-jelas merupakan "solid cancer".

Sampai saat kami menulis surat ibu putra kami telah menyelesaikan serangkaian pengobatan kami masih tetap percaya bahwa Allianz merupakan perusahaan besar dengan penuh pengalaman dan integritas serta memiliki tim Ahli termasuk tim dokter yang sangat kompeten dibidangnya tentunya dapat membedakan definisi dari penyakit TUMOR yang dimaksud pada polis dengan penyakit NEUROBLASTOMA STAGE 4 dengan sel kanker yang telah menyebar ke seluruh tubuh hingga membutuhkan serangkaian pengobatan panjang termasuk diantaranya kemoterapi.

Maka dari itu saya pemegang polis menyampaikan keberatan saya atas ditolaknya klaim pengobatan. Untuk itu bersamaan dengan surat ini saya menuntut agar dilakukan investigasi kembali atas surat-surat permohonan klaim dan membayar klaim secepatnya. Dan sebagai tanda keseriusan saya terhadap penolakan Perusahan Allianz membayar klaim, surat ini juga saya tembuskan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan beberapa usaha lain akan saya tempuh termasuk membagi pengalaman saya ke media sosial dan jika perlu melalui jalur hukum untuk menuntut pembayaran klaim tersebut.

Demikian surat ini saya buat mohon agar dapat dipahami sebaik-baiknya dah harap maklum.

Hormat Saya

Aksan Jaya Putra, B.Bus. (mei/jbr)