"Makanya saya bilang ke Jokowi, kita musti keras sedikit supaya kelihatan 'nakal' kan?" kata JK dalam sambutannya pada acara Pidato Peradaban (Lecture on Civilization) - Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC) di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (4/10/2017).
JK menceritakan pengalaman yang dilihatnya saat delegasi-delegasi Indonesia berkunjung ke luar negeri. Saat Presiden Indonesia berkunjung ke luar negeri, seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), maka pemberitaan di negara penerima hanya sedikit. Hal ini karena Indonesia bukanlah negara yang kaya dan 'nakal'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Coba kalau China datang, langsung live CNN itu Xi Jinping, Fu Jin Tao, atau (yang) datang Iran, Chavez dari venezuela di New York, ngamuk-ngamuk di New York. Diperhatikan kalau kita pidato, ya headline-ya di Indonesia saja," ucapnya.
Hal ini berbeda ketika Indonesia di era Presiden Sukarno. Menurutnya, pendapat-pendapat Indonesia selalu diperhatikan oleh dunia internasional.
"Presiden Indonesia yang diperhatikan Bung Karno yang diingat karena dia punya pendirian. Kita pakai kopiah, yang terkenal kopiah Sukarno. Karena dia punya prinsip yang kadang mengejutkan dunia," tegasnya.
Untuk kembali dapat perhatikan di dunia, JK menyebut Indonesia harus dapat tumbuh menjadi negara kaya dan makmur. Dikatakannya, sudah saatnya Indonesia menjadi negara 'pemberi', bukan lagi negara 'penerima'.
"Ya, buat negara ini kaya makmur bertumbuh dan tentu berpengaruh Indonesia harus tangan di atas bukan tangan di bawah. Hampir semua masih berpikir tangan di bawah," sindir JK. (tfq/bag)











































