Memahami Alasan Warga AS Pantas dan Berhak Miliki Senjata Api

Andi Saputra - detikNews
Selasa, 03 Okt 2017 18:27 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Stephen Paddock menembaki secara brutal penonton festival musik Route 91 Harvest, Las Vegas. Akibat aksi brutal itu, tercatat 59 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya luka-luka. Mengapa senjata api bisa dijual bebas di Amerika Serikat?

Bagi yang tidak paham Amerika Serikat, tentu sangat aneh terhadap pemerintah AS yang membiarkan senjata api dijual bebas di pasar dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Sebab, senjata api menjadi alat membunuh.

[Gambas:Video 20detik]


Namun, di dalam negeri AS sendiri, perdebatan tersebut belum berkesudahan. Bagi orang AS yang menolak senjata api dijual bebas, mereka beralasan akses mudah pada senjata api tidak hanya memudahkan kekerasan, tapi juga merangsang, mengilhami, dan mengundang kejahatan.

Tapi masih banyak juga kelompok yang setuju penjualan senjata api dilakukan secara bebas dengan syarat tertentu.

"Senjata api tidak membunuh orang, orang membunuh orang," demikian alasan pro-senjata api sebagaimana dikutip detikcom dari buku 'Kriminologi' karya Frank E Hagen, Selasa (3/10/2017).

Hal lain didorong dengan AS yang memiliki budaya dan subkultur kekerasan yang melahirkan kombinasi berbahaya. Hal ini mendorong warganya merasa berhak memiliki senjata api untuk melindungi diri dari mara. Sebuah survei terhadap tahanan remaja menyebutkan motivasi memiliki senjata adalah ketakutan, bukan aktivitas kriminal, bukan keanggotaan geng, atau perdagangan narkoba.

Dengan melarang senjata api, regulasi itu nantinya malah akan melukai warga taat hukum, yang tidak mampu melindungi diri dari penjahat.

Sebuah studi dilakukan JD Wright dan Rossi terhadap para narapidana menemukan hasil bahwa daripada mengurangi kejahatan di lingkungan urban keras melalui kontrol senjata, kekerasan yang mewabah di kawasan semacam itulah yang harus dikurangi sehingga mengurangi keperluan untuk membawa senjata.


Di luar perdebatan pro dan kontra, AS memang menjadi negara maju dengan angka pembunuhan tertinggi di dunia. Pada 1999, pengadilan Brooklyn menghukum 15 perusahaan terkait distribusi senjata api sebesar USD 500 ribu kepada Steven Fox.

Lalu, bagaimana dengan Inggris? Negeri Ratu Elizabeth II baru melarang total kepemilikan senjata api dari warga sipil pada 1998. Larangan total itu merupakan respons atas penembakan membabi buta yang menewaskan 16 siswa di Dunblane, Skotlandia, pada 1996. (asp/erd)