Ironi Amerika, Korban Terus Berjatuhan tapi Senjata Dijual Bebas

Erwin Dariyanto - detikNews
Selasa, 03 Okt 2017 17:08 WIB
Foto: AFP
Jakarta - Eric Paddock begitu kaget ketika mengetahui sang kakak, Stephen Paddock, mengoleksi 34 senjata api. Sebanyak 18 di antaranya disimpan di rumahnya di Mesquite, Nevada, Amerika. Sisanya, 16 pucuk, dibawa ke kamar hotel di Mandalay Bay Resort and Casino, Las Vegas.

[Gambas:Video 20detik]


Dari balkon lantai 32 hotel tersebut, pada Minggu malam kemarin, Stephen menembaki kerumunan penonton festival musik Route 91 Harvest. Akibat aksi brutal itu, tercatat 59 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya luka-luka.

Bagaimana seorang Stephen Paddock (64 tahun) bisa memiliki 34 senjata api dan 16 di antaranya dibawa masuk ke hotel?

Di Amerika, kepemilikan senjata api adalah hal biasa. Padahal aksi pembunuhan massal di Negeri Abang Sam sering dilakukan dengan menggunakan senjata api, umumnya jenis pistol.

Washington Post mencatat, sejak 1 Agustus 1966 hingga sekarang, tak kurang 949 warga menjadi korban penembakan massal. Korban berasal dari berbagai latar belakang, suku, agama, dan ras. Dari jumlah itu, 145 di antaranya masih berusia anak-anak dan remaja. Angka ini belum termasuk aksi penembakan massal di gang-gang dan tempat terpencil lainnya.

Data dari gunviolencearchive[dot]org, yang dihimpun hingga 3 Oktober, menunjukkan, selama 2017, terdapat 272 kasus penembakan brutal dengan 232 korban jiwa di Amerika.

Amendemen kedua konstitusi Amerika Serikat tahun 1971 memang melegalkan kepemilikan senjata api oleh warga. Ketentuan ini tak bisa diganggu gugat oleh negara. Akibatnya, pada 2007, Small Arms Survey mencatat AS menjadi negara dengan kepemilikan senjata api oleh warga terbanyak di dunia, yakni 88,8 juta senjata setiap 100 orang.

Presiden Barrack Obama pernah beberapa kali berusaha memperketat kepemilikan senjata api oleh warga. Pada 2013, Obama memperketat pengawasan senjata api menyusul terjadinya aksi penembakan massal di Newtown. Dia pun menuntut Kongres menyetujui undang-undang yang lebih ketat untuk membatasi kepemilikan senjata api.

Sayang, upaya Obama ini kandas. Warga tetap leluasa melakukan jual-beli senjata melalui internet. Data dari Kementerian Kehakiman AS yang dikutip dari Washington Post menunjukkan pada tahun 2000 ada sekitar 4.000 situs penjualan senjata. Diperkirakan jumlahnya terus naik hingga saat ini.

Hingga akhir 2015, ada lebih dari 130 ribu penjual senjata api yang terdaftar di Amerika Serikat. Pada awal 2016, Obama kembali mengumumkan sejumlah langkah untuk memperketat pengendalian senjata api. Lagi-lagi kebijakan Obama itu tak mampu membendung jumlah kepemilikan senjata api oleh warga yang memang dijamin konstitusi.

Angka penjualan senjata api di AS pun terus meningkat, terutama menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden di negara tersebut pada 8 November 2016. Sebuah toko senjata online yang berbasis di Amerika Serikat dalam sepekan mampu menjual 30.000 pucuk senapan serbu AR-15.

Lalu, dari mana Stephen Paddock membeli senjata?

Guns & Guitars, toko senjata di Mesquite, Nevada, diketahui menjual senjata kepada Stephen. General manager toko Cristopher M Sullivan mengakui hal itu karena semua transaksi telah sesuai aturan yang berlaku.

(erd/jat)