Brimob, Diburu Inggris dan Dijebak Askar Malaysia

Aryo Bhawono - detikNews
Selasa, 03 Okt 2017 15:30 WIB
Dok. Resimen Pelopor
Jakarta -

Perintah misi bersandi operasi A basis Z ini tercantum dalam Skep Menteri Panglima Angkatan Kepolisian No. Po: 1827/SC/IV/M/ Pangak tertanggal 5 Desember 1964. Kepolisian menugasi 96 personel Pasukan Kompi D/Yon 32 Pelopor, yang dipimpin Iptu Nicholas A. Titaley, untuk menyusup ke Malaysia.

Mereka membagi kompi menjadi beberapa tim, yang beranggotakan 8 orang, untuk menyusup ke Malaysia melalui pulau-pulau yang tersebar di Kepulauan Riau. Titik pertemuan misi ini adalah Gunung Belumut, yang terletak di Johor, Malaysia.

Anton Agus Setiawan dan Andi Muh. Darlis mencatat dalam buku 'Resimen Pelopor: Pasukan Elite yang Terlupakan', Tim 3 Peleton III Kompi Pelopor yang dipimpin Brigadir Suyatmin berhasil mendarat ke Malaysia melalui pantai timur. Mereka melakukan sabotase dan menyergap satu peleton Angkatan Darat Tentara Malaysia.

"Pasukan Pelopor mampu menjatuhkan separuh anggota peleton Tentara Diraja Malaysia dan menawan seorang tentara bernama Yassin," tulis Anton dan Andi.

Serangan ini dibalas dengan pengejaran oleh tentara gabungan Special Air Services (SAS), pasukan Gurkha, dan Tentara Diraja Malaysia. Empat pasukan elite Inggris (SAS) melakukan pengejaran, sedangkan pasukan Gurkha dan Tentara Diraja Malaysia menjadi kekuatan pemukul di belakang SAS.

Tim Resimen Pelopor (sejak 16 Agustus 1961 namanya oleh Presiden Sukarno diubah sebutan Mobrig menjadi Brigade Mobil atau Brimob) berhasil dijebak di kawasan Sungai Papan, Johor, dan melakukan perlawanan selama dua malam. Kekuatan kecil pasukan memaksa mereka mundur dan meminta bantuan warga kampung keturunan India bernama Samin. Warga ini diam-diam melapor kepada Tentara Diraja Malaysia dan tiga anggota Tim 3 Peleton III Kompi Pelopor ditangkap hidup-hidup.

Kontak senjata dengan SAS juga dialami Tim 3 Peleton IV, yang dipimpin Brigadir Polisi J. Taboky. Pasukan ini berhasil lolos melakukan penyusupan pada 20 Maret 1965. Sekitar sepekan kemudian, mereka merampas logistik di Kampung Masahi, Koto Tinggi, Johor, Malaysia.

SAS berhasil mencium keberadaan pasukan ini dan memburunya hingga terjadi kontak senjata di tengah perkebunan karet. Enam anggota tim Resimen Pelopor tewas. Dua anggota tim pun melarikan diri, yakni Agen Polisi I Soerito dan Agen Polisi I Dudung.

Keduanya menyewa tukang sampang yang ternyata anggota Askar Malaysia. Tapi keduanya berhasil lolos setelah dikepung Askar Malaysia. Pada 16 Mei 1964, barulah sisa personel Tim 3 Peleton IV ini ditangkap Askar Malaysia ketika meminta pertolongan warga karena sakit.

Pemimpin Kompi, Iptu Titaley, juga berhasil menyusup bersama 25 personel Resimen Pelopor dan langsung berhadapan dengan Tentara Diraja Malaysia. Ia memecah pasukannya menjadi tim kecil berisi 5 personel. Baku tembak dengan Tentara Diraja Malaysia dan Gurkha mengiringi penyusupan ini.

Pasukan ini unggul dalam pertempuran di hutan dan melakukan empat kali kontak senjata. Namun keterbatasan logistik menurunkan kekuatan tempur. Titaley, yang terkena malaria, akhirnya tertangkap di dalam hutan. Sisa anggota pasukannya pun berhasil disergap dan dipenjarakan di Johor Baru.

Buku 'Resimen Pelopor: Pasukan Elite yang Terlupakan' mencatat berbagai upaya penyusupan juga mengalami kegagalan di tengah laut. Hingga operasi Dwikora dihentikan, tercatat ada 38 anggota Resimen Pelopor yang gugur.

(jat/jat)