Jokowi soal Eksekusi Mati Gembong Narkoba: Tanya ke Jaksa Agung

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 03 Okt 2017 13:05 WIB
Foto: Laily Rachev/Biro Pers Setpers
Jakarta - Ribuan kilogram sabu dan jutaan butir pil ekstasi diamankan aparat. Para kartel narkoba yang terlibat di dalamnya dihukum mati oleh pengadilan. Tapi hingga hari ini, gembong narkoba itu belum dieksekusi mati dan masih menunggu di dalam penjara.

Atas banyaknya bandar narkoba yang belum dieksekusi mati, Jokowi menjawab pendek.

"Tanya ke Jaksa Agung," kata Presiden Jokowi di sela acara Pencanangan Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat, di Bumi Perkemahan Wisata Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (3/10/2017).


Tidak sedikit dari para gembong narkoba itu akhirnya tetap mengendalikan lagi bisnisnya dari balik penjara. Mereka yang telah dihukum mati dan menunggu eksekusi mati di antaranya:

1. Ola
Ola layak menduduki peringkat teratas dari daftar karena sepak terjangnya di dunia hitam. Pemilik nama asli Meirika Franola itu direkrut oleh WN Pantai Gading, Mouza Sulaiman Domala, untuk terjun ke dalam bisnis gelap narkoba pada penghujung 1990-an. Ola lalu merekrut saudaranya untuk berbisnis heroin, yaitu Rani dan Deni.

Dalam perjalanannya, mereka diendus aparat dan digerebek pada tahun 2000. Suami Ola mati tertembus timah panas dalam penggerebekan. Rani dan Deni ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta saat akan membawa 15 kg heroin ke Inggris. Bahkan Deni sudah duduk di pesawat beberapa saat sebelum pesawat lepas landas. Sedangkan Ola ditangkap di lobi bandara setelah mengantar Rani dan Deni.

Atas perbuatan itu, ketiganya dihukum mati. Tapi apa daya, hukuman mati Deni dan Ola dianulir oleh Presiden SBY pada 2012 menjadi penjara seumur hidup. Adapun status Rani tetap, yaitu terpidana mati.

Apa lacur, bukannya tobat, Ola malah kembali mengedarkan narkoba dari balik penjara. Akhirnya ia dihukum mati lagi oleh MA pada Desember 2015. Bagaimana dengan Rani? Ia telah dieksekusi mati terlebih dahulu pada Januari 2015.

2. WNI Benny Sudrajat alias Tandi Winardi
3. WNI Iming Santoso alias Budhi Cipto
4. WN China Zhang Manquan
5. WN China Chen Hongxin
6. WN China Jian Yuxin
7. WN China Gan Chunyi
8. WN China Zhu Xuxiong
9. WN Belanda Nicolaas Garnick Josephus Gerardus alias Dick
10. WN Prancis Serge Areski Atlaoui

Sembilan orang di atas merupakan komplotan terbesar ketiga di dunia. Sebab, mereka membangun pabrik narkoba ketiga di dunia di Tangerang. Kesembilannya dihukum mati.

Karena tidak kunjung ditembak mati, diam-diam Benny kembali membangun jaringannya dari balik sel LP Pasir Putih, Nusakambangan. Lewat kaki tangannya, Benny bisa kembali membangun pabrik narkoba di tiga tempat, yaitu di Pamulang, Tangerang; Cipanas, Cianjur; dan Tamansari, Jakarta Barat.

Syukurlah, aksi ini tercium BNN dan dicokoklah Benny dari dalam sel. Benny pun kembali duduk di kursi pesakitan. Hasilnya, Benny dihukum mati untuk kedua kalinya. Dengan catatan tersebut, kelompok Tangerang Nine di atas layak masuk daftar top sixteen.

11. Frank Armando
WN Amerika Serikat itu ditangkap polisi di Apartemen Royal Park, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, pada 19 Oktober 2009. Pria kelahiran Maryland itu diamankan karena terlibat perdagangan sabu seberat 5,6 kg. Akhirnya Frank dihukum mati dan menjadi satu-satunya terpidana mati berkebangsaan Amerika Serikat.

Pada pertengahan April 2015, Frank mencoba kabur saat diberi izin berobat ke RS Polri. Dengan sigap, sipir penjara yang mengawalnya mengejar dan membekuk Frank. Kini Frank menghuni LP Cipinang.

12. A Yam
13. Denny
14. Jun Hau

Ketiganya dihukum vonis mati karena membangun pabrik ekstasi terbesar di Asia Tenggara pada 2002. Mereka bahu-membahu membuat ekstasi dengan hasil 500 butir per hari. Hingga digerebek aparat pada Desember 2002, mereka sudah mencetak 15 ribu butir ekstasi! Ketiganya divonis hukuman mati. Lima belas tahun telah berlalu, namun timah panas tak juga mereka terima. (dnu/asp)