Kenangan Fadli Zon dan Catatan Kesehatan Soeharto 1999-2008

Kenangan Fadli Zon dan Catatan Kesehatan Soeharto 1999-2008

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Selasa, 03 Okt 2017 08:59 WIB
Kenangan Fadli Zon dan Catatan Kesehatan Soeharto 1999-2008
Fadli Zon berbincang dengan Soeharto. Foto: Twitter Fadli Zon
Jakarta - Presiden ke-2 RI Soeharto meninggal dunia pada 27 Januari 2008 setelah menjalani perawatan di RSPP, Jakarta Selatan. Rupanya Wakil Ketua DPR Fadli Zon sempat berbincang dengan Soeharto sebelum penguasa Orde Baru itu meninggal.

Kabar kesehatan Soeharto yang terus menurun kala itu sering mewarnai pemberitaan sejak tahun 1999. Namun, Fadli Zon sempat berbincang panjang pada Maret 2007.

Fadli Zon saat berbincang panjang dengan Soeharto.Fadli Zon saat berbincang panjang dengan Soeharto. Foto: Twitter Fadli Zon


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banyak hal yang saya tanyakan dari mulai peristiwa di tahun 40-an, '65, termasuk juga saya tanyakan tentang isu ketika itu Kolonel Latief," kata Fadli di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (2/10/2017).

Fadli mengaku perbincangannya itu dalam rangka penulisan bukunya. Ada banyak pertanyaan untuk 'The Smiling General' tersebut. Namun, pertanyaan besar Fadli justru tak dijawab oleh Pak Harto.

"Dia lebih cenderung mengingat masa-masa yang lebih lama ketimbang yang masih baru. Waktu itu sebenarnya saya lebih banyak ingin menanyakan bagaimana proses di tahun 97/98, terkait IMF, bagaimana kebijakan-kebijakan yang diambil, kenapa setuju dengan IMF. Malah itu agak kesulitan (Soeharto) untuk menjawab," tutur Fadli.

Dalam foto yang diunggah Fadli, Soeharto terlihat mengenakan baju koko dan sarung. Pertemuan itu pun bukan dilakukan di rumah sakit.

"Waktu itu kebetulan bulan Maret, itu (Soeharto) sedang tidak sakit," ujar Fadli.

Padahal Soeharto tercatat mulai terkena stroke pada tahun 1999. Benarkah kondisi Soeharto cukup fit untuk berbincang panjang di tahun 2007?

Menurut catatan detikcom, Soeharto terkena stroke ringan dan menjalani pemeriksaan radiologi dan MRI di RSP Pertamina (RSPP) Jakarta pertama kali pada 20 Juli 1999. Pada 30 Juli 1999 dia sempat pulang dari RS, namun kembali lagi pada 14 Agustus 1999 karena pendarahan di usus.
Fadli bertemu Soeharto dalam rangka penulisan bukunya.Fadli bertemu Soeharto dalam rangka penulisan bukunya. Foto: Twitter Fadli Zon

Pada 7 Oktober 1999, tim dokter menerangkan Soeharto masih sakit sehingga tidak dapat mengikuti pemeriksaan di Kejaksaan Agung. Surat keterangan tim dokter yang ditandatangani Dr Hari Sabardi ini menekankan, keterangan tersebut dibuat berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara medis.

14 Februari 2000, Soeharto tercatat mengalami kesulitan komunikasi verbal. Kemudian pada 7 Maret 2000, tim dokter keluarga menyatakan Soeharto sakit jasmani dan rohani. Dia lalu dibawa ke RSCM oleh Kejagung untuk pemeriksaan ulang kesehatannya.

Tanggal 14 Agustus 2000, Soeharto kembali masuk RSPP untuk pemeriksaan endoskopi dan CT Scan. 23 September 2000, Soeharto menjalani foto otak di RSPP.

Soeharto menjalani operasi usus buntu di RSPP pada 24 Februari 2001. Soeharto menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung permanen pada 13 Juni 2001.

Soeharto mulai kritis pada 17 Desember 2001 setelah batuk-batuk dan sesak nafas. Saat itu tensi darah Soeharto adalah 180/70 dengan suhu tubuh 38-39 derajat celcius.

Pada 12 Agustus 2002, Ketua Tim Dokter Soeharto, Akhmal Taher, mengumumkan kesehatan Soeharto lebih baik dibanding saat terserang stroke pada 1999 dan 2001. Namun kemampuan berbahasanya terganggu.

Pada 29 Oktober 2002 dia sempat berziarah ke makam mendiang istrinya, Ibu Tien, di Astana Giribangun. Saat itu Soeharto sudah tampak bugar meski harus ditopang tongkat.

Kesehatan Soeharto kembali memburuk pada 29 April 2003 dan dilarikan ke RSPP. Pada 7 Januari 2004, Kejaksaan Agung memerintahkan Kejaksaan Negeri Jaksel memeriksa kondisi kesehatan Soeharto. Tim dokter RSCM memeriksa kesehatan Soeharto selama tiga kali dan menyimpulkan Soeharto menderita cacat psikologi permanen.

Kondisi naik turun kesehatannya terus berulang sepanjang tahun 2005. Hingga pada 18 Mei 2006, dia dinyatakan kritis dan tak bisa lagi menjalani aktivitas normal.

Pada 31 Mei 2006. Soeharto meninggalkan RSPP pukul 8.35 WIB menuju kediamannya. Soeharto ditemani tim dokter dan Dirut RSPP Dr Adji Suprajitno. Meski selang di lambung masih terpasang kondisinya semakin membaik.

Dalam catatan detikcom, kondisi kesehatan Soeharto relatif stabil sepanjang tahun 2007 atau saat Fadli Zon berkunjung. Meski demikian, sebelumnya sudah dinyatakan bahwa Soeharto mengalami kesulitan komunikasi verbal.

Hingga akhirnya pada 4 Januari 2008, Soeharto kembali dibawa ke RSPP meski pihak pengacara menyebut hanya check up biasa. Pada 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB, Pak Harto tutup usia setelah berhari-hari menginap di RSPP.
Halaman 2 dari 2
(bag/aan)


Berita Terkait