"Semakin banyak calon semakin bagus bagi warga Jatim yang menunjukkan bahwa tidak ada krisis calon pemimpin di Jatim. Yang pertama, kita menghindari calon tunggal," ujar Wasekjen PPP Achmad Baidowi dalam keterangannya, Senin (2/10/2017).
"Yang kedua, kalau ada calon lebih dari dua pasang, justru bagus agar publik tidak terkonsentrasi hanya pada dua paslon yang bisa menimbulkan gesekan di bawah. Tepatnya kalau lebih dari dua paslon, gesekan horizontal berkurang," imbuh pria yang akrab disapa Awiek ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awiek menjelaskan peta sosial-politik di Jawa Timur terbagi menjadi dua wilayah, yakni Mataraman dan Tapal Kuda. Hal ini, kata Awiek, juga jadi tantangan bagaimana agar parpol menerapkan strategi yang tepat untuk memenangkan Pilgub Jatim.
"Wilayah Tapal Kuda pun masih terbagi antara Madura, Jawa dan pendalungan (perpaduan Jawa-Madura), belum lagi yang Mataraman juga terbagi lagi ke dalam beberapa entitas," jelas dia.
Anggota Komisi II DPR ini mengatakan hingga saat ini baru Saifullah Yusuf alias Gus Ipul yang hampir pasti berangkat dengan kekuatan 20 persen kursi PKB di DPRD. Jawa Timur sebagai basis pemilih NU, menurut dia, tentu parpol akan melakukan kalkulasi politik yang matang, termasuk PPP.
Karena PPP tak punya cukup kursi untuk mengusung sendiri calon, Awiek menegaskan PPP akan menjajaki kemungkinan koalisi dengan partai yang akan mengusung Khofifah. Awiek menyebut keputusan PPP untuk Pilgub Jatim akan dibulatkan akhir bulan ini.
"PPP sendiri karena tak punya kecukupan kursi, maka harus berkoalisi, di antaranya menjajaki komunikasi dengan parpol yang akan mengusung Khofifah. Akhir bulan ini Insyaallah sudah ada keputusan dari PPP kepada siapa rekomendasi turun," tegas Awiek. (gbr/dkp)











































