Penyelundupan BBM di Perbatasan Timor Leste Kembali Marak
Minggu, 22 Mei 2005 15:11 WIB
Atambua - Aksi penyeludupan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan berbagai bahan kebutuhan pokok melalui wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, kembali marak. Sedikitnya ada 100 kasus kasus penyelundupan dalam empat bulan terakhir melalui Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Aksi penyelundupan ini dipicu oleh melonjaknya harga barang di Timor Leste yang menggunakan mata uang US $ sebagai mata uang negara. Juga minimnya jumlah personil yang ditempatkan di wilayah perbatasan.Komandan Satgas Pasukan Pengaman Perbatasan RI, Letkol Art. Yul Avianto mengatakan, dalam empat bulan terakhir, jumlah kasus penyelundupan di perbatasan mencapai lebih dari 100 kasus. Rata-rata setiap bulan ada 25 kasus penyelundupan. "TNI sudah berupaya maksimal untuk mencegah aksi penyelundupan dan pasar gelap. Namun jumlah personil yang ditempatkan di perbatasan masih terbatas karena panjang garis batas kedua negara mencapai 200 kilometer lebih," keluh Avianto yang dihubungi melalui telepon, Minggu (22/5/2005)Avianto menambahkan, pasukan TNI yang bertugas diperbatasan Kabupaten Belu saat ini sebanyak dua batalyon dengan jumlah personil mencapai 1500 personil. Mereka tersebar di 47 pos. "Setiap hari pasti ada kasus penyelundupan. Para pelaku biasanya menggunakan jalan-jalan tikus sehingga sulit dideteksi. Kuat dugaan para penyelundup memiliki jaringan yang sangat rapi dengan melibatkan warga lokal dan Timor Leste. Mereka biasanya melakukan aksi secara tersembunyi dan aparat sulit melakukan pemantauan," lanjut dia.Kabid Humas Polda NTT, Komisaris Polisi Marthen Radja yang dihubungi terpisah mengatakan, kepolisian telah menempatkan satu kompi brimob di wilayah perbatasan kedua negara. Tugas utama mereka yakni membantu TNI melakukan pengamanan di sepanjang garis batas kedua negara. Khusus Kabupaten Belu, kepolisian telah membangun enam pos penjagaan yang terletak di enam pintu masuk ke Timor Leste.
(dni/)











































