detikNews
Jumat 29 September 2017, 18:15 WIB

Ratna Assan, Perempuan Indonesia Pertama di Majalah Playboy

Aryo Bhawono - detikNews
Ratna Assan, Perempuan Indonesia Pertama di Majalah Playboy Ratna Assan (Dok. IMDB)
Jakarta - Wimar Witoelar, mahasiswa yang nyambi sebagai wartawan, terbang selama enam jam dari Washington DC ke California untuk menemui Ratna Assan.

"Dia tinggal di rumah ibunya, Devi Dja, di kawasan sebelah utara Los Angeles. Umurnya masih remaja, 18-19 tahun, dan cantik," ungkap Wimar ketika berbincang dengan detikcom, Jumat (29/9/2017).

Nama Ratna tengah dipuja berbagai media di AS lantaran perannya sebagai Zoraima dalam film 'Papillon'. Film itu arahan sutradara yang dibintangi aktor papan atas Steve McQueen dan Dustin Hoffman. 'Papillon' (kupu-kupu) bercerita tentang kriminal Prancis yang melarikan diri dari penjara Pulau Setan di Guyana Prancis.

Ratna Assan, Perempuan Indonesia Pertama di PlayboyRatna dan Steve McQueen (Dokumentasi Papillon)


Ratna berperan sebagai wanita suku pedalaman Indian yang bertemu kriminal berjulukan 'Papillon' itu. Penampilannya mengundang decak kagum karena kecantikan dan aktingnya yang mumpuni. Apalagi saat berperan sebagai perempuan Indian di pedalaman, Ratna tampil bertelanjang dada.

"Film ini masuk 10 besar terlaris waktu itu. Tapi sesampainya di Indonesia, bagian Ratna banyak disensor sampai hampir tak ada sama sekali," papar Wimar.

Kesuksesan Ratna tampil di film itu ternyata dilirik majalah Playboy. Ia menjadi salah satu model dalam sebuah edisi Februari 1974. Ia tampil bugil untuk 4 halaman artikel foto.

Bakat seni Ratna menurun dari ibunya, Soetidjah alias Dewi Dja. Ratna Assan lahir pada 16 Desember 1954 di Torance, California, Amerika Serikat. Ayahnya bernama Ali Hasan. Ali dan Dewi Dja hijrah ke Amerika guna mengembangkan kariernya sebagai penari.

Di Amerika, selain melatih tari, Dewi menjadi koreografer yang tampil dalam film-film produksi Hollywood. Dia antara lain terlibat dalam film 'Road to Singapore' (1940), 'Road to Morocco' (1942), 'The Picture of Dorian Gray' (1945), 'Three Came Home' (1950), dan 'Road to Bali' (1952).

Wimar Witoelar tengah mewawancarai Ratna Assan. (Dok. Wimar via Flickr)Wimar Witoelar tengah mewawancarai Ratna Assan. (Dok. Wimar via Flickr) Foto: Dok. Wimar Witoelar


Menurut Wimar, bugil di majalah Playboy bukan melulu soal porno. Masyarakat Barat saat itu beranggapan bahwa majalah Playboy merupakan majalah gaya hidup, kehidupan, dan seks. Edisi yang memuat Ratna, menurut Wimar, kabarnya laris dibeli orang Indonesia.

"Ratna sendiri tahu ia memiliki aset tubuh yang bagus dan kecantikan. Dia ingin terkenal," ungkap Wimar, yang pernah menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid.

Ratna memendam hasrat untuk bertandang dan berkarier di Indonesia. Wimar mengaku dimintai tolong jika punya kenalan produser atau relasi media yang mau mengundangnya. Namun bisnis media di Tanah Air kala itu belum berkembang, hanya ada satu saluran televisi (TVRI) dan media cetak belum mampu mengundang artis Hollywood.

Wawancara itu sendiri, kata Wimar, sangat berbobot. Ratna memiliki pengetahuan luas soal budaya. Ia tak hanya mengandalkan tubuh dan kecantikan.
(jat/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed