DetikNews
Kamis 28 September 2017, 02:29 WIB

Laporan Dari Madinah

Cerita dan Pujian Pengelola Masjid Nabawi ke Jemaah Haji Indonesia

Triono Wahyu Sudibyo - detikNews
Cerita dan Pujian Pengelola Masjid Nabawi ke Jemaah Haji Indonesia Direktur Humas Masjid Nabawi Abdul Wahid Al-Hetab dan penerjemah, Usman Hatim Jogjawi (Foto: Triono Wahyu S/detikcom)
FOKUS BERITA: Haji 2017
Madinah - Pada musim haji tahun ini, 200-an ribu jemaah Indonesia beribadah di Masjid Nabawi, Madinah. Mereka datang bergelombang. Sikap dan pengaturan terhadap jemaah diacungi jempol oleh pengelola Masjid Nabawi.

Direktur Hubungan Masyarakat Masjid Nabawi, Abdul Wahid Al-Hetab ditemani penerjemah asal Indonesia (Yogyakarta), Usman Hatim Jogjawi, saat menemui Tim Media Center Haji (MCH) di kantor pengelola Masjid Nabawi, Selasa (26/9/2017). Dia bicara tentang sejarah masjid dan upaya-upaya yang dilakukan untuk menyambut jemaah haji maupun umrah. Misalnya soal 250 payung elektrik di halaman masjid, 100 pintu untuk akses ke bangunan masjid, hingga fasilitas seperti tempat parkir dan sound system.


"Semua dibuat penguasa (Raja), dari zaman ke zaman, untuk jemaah yang datang ke Nabawi," kata Al-Hetab sebagaimana diterjemahkan Usman.

Payung elektrik di halaman Masjid Nabawi terbuka ketika hari terang. Payung elektrik di halaman Masjid Nabawi terbuka ketika hari terang. (Foto: Triono Wahyu/detikcom)

Al-Hetab menjelaskan pembangunan dan perluasan dari satu penguasa ke penguasa. Menurut dia, masjid kian modern di tangan Raja Salman.

Indonesia termasuk salah satu pihak yang mendapatkan prioritas di Nabawi. Salah satu sebabnya, jumlah jemaah paling banyak. Bahkan tahun ini, Indonesia merupakan pengirim jemaah haji terbanyak di dunia.


Untuk mengakomodir kepentingan jemaah, pengelola masjid membuka majelis atau ceramah bermacam bahasa. Termasuk di antaranya berbahasa Indonesia. Penceramah merupakan mahasiswa atau pakar.

"Kajiannya soal tauhid, tafsir, fiqh, sejarah nabi, syariah, ibadah, dan haji," kata Al-Hetab.

Sebagai pihak penerima jemaah berbagai negara, bagaimana penilaian Al-Hetab khusus terhadap jemaah haji Indonesia? "Alhamdulillah, termasuk (jemaah) sangat tertib dan taat. Bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan baik," kata Al-Hetab.


Suasana Masjid Nabawi ketika malam hariSuasana Masjid Nabawi ketika malam hari (Foto: Triono Wahyu S/detikcom)

Jemaah Indonesia berada di Madinah dalam dua gelombang. Jemaah gelombang pertama tiba di Madinah pada akhir Juli 2017. Setelah 8-9 hari, mereka bergeser ke Mekah. Usai puncak haji, jemaah terbang ke Tanah Air.

Sementara, pada saat bersamaan, jemaah gelombang kedua yang sebelumnya mendarat di Jeddah, bergerak dari Mekah ke Madinah antara Rabu (6/9) hingga Selasa (26/9). Mereka akan pulang ke Tanah Air via Madinah sejak Kamis (21/9) hingga Jumat (6/10).


"Bangsa Indonesia tahu aturan. Saya tidak bisa menyampaikan dengan istilah lain. Subhanallah, sangat baik. Terutama soal perpindahan jemaah dan ibadah," kata Al-Hetab.

Jemaah haji Indonesia di Nabawi untuk melaksanakan ibadah arbain (salat 5 waktu tanpa putus sebanyak 40 kali). Selain itu, mereka juga berziarah ke sejumlah tempat seperti Jabal Uhud, Masjid Quba (masjid pertama yang dibangun Rasulullah), Masjid Qiblatain (masjid 2 kiblat), dan lain-lain.
(try/jbr)
FOKUS BERITA: Haji 2017
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed