DetikNews
Selasa 26 September 2017, 17:13 WIB

AirNav Siapkan 10 Bandara Pengalihan Jika Gunung Agung Meletus

Ibnu Hariyanto - detikNews
AirNav Siapkan 10 Bandara Pengalihan Jika Gunung Agung Meletus Status Gunung Agung Awas, Warga Tetap Beraktivitas (Ulet Ifansasti/Getty Images)
Nusa Dua - AirNav Indonesia menyebut akan menerapkan skenario pengalihan penerbangan menuju Bali jika Gunung Agung bererupsi. Ada 10 bandara terdekat yang disiapkan guna mengantisipasi kemungkinan tersebut.

"Ya kita alihkan. Ada 10 bandara yang kita siapkan. Karena hitungan kita di Bali ini yang mau arrival ada 15-20 pesawat per jamnya, jadi ada 20 traffic yang kita alihkan ke 10 bandara," kata Direktur AirNav Indonesia Novie Riyanto saat ditemui di Hotel Westin Resort, Nusa Dua, Selasa (27/9/2017).

Kesepuluh bandara tersebut ada di Jakarta, Solo, Surabaya, Banyuwangi, Lombok, Ambon, Manado, Makassar, Balikpapan, dan Kupang. Novie juga sudah memanggil general manager kesepuluh bandara tersebut ke Denpasar. Pertemuan itu untuk membahas skenario rute-rute pengalihan.

"Kita akan buat skenario yang detail jika ada erupsi. Kalau terjadi siang bagaimana, sore bagaimana, kalau malam bagaimana. Karena ini berbeda situasi traffic-nya kalau pagi-siang sibuk, mungkin malam agak sepi. Tapi paling penting kita mengatasi pesawat yang di udara ini tidak terkena abu," papar Novie.

[Gambas:Video 20detik]



Novie mengatakan pengalihan itu dilakukan agar pesawat-pesawat yang melintas tak terkena vulkanik ash. Selain berdiskusi dengan para GM, Airnav berkoordinasi dengan berbagai pihak, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin.

"Sama-sama kita lihat, begitu dia meletus, ini akan dihitung oleh PVMBG dan akan dipotret oleh satelit Himawari, lalu kita akan petakan mana area yang terkena. Dari VAAC Darwin akan menghitung, ini arah anginnya ke mana. Nanti akan ketahuan mana yang kena," ucap dia.

Sementara itu, hingga saat ini kondisi langit Bali masih aman. Menurut Novie, vulkanik ash belum ada.

"Sejauh ini belum ada vulkanik ash. Kita akan monitor terus per jam sejauh ini hanya uap air saja. Uap air tidak berbahaya," tambah dia.


(ibh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed