"Itu sih ngawurlah," ujar Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki kepada wartawan di kantornya, gedung Bina Graha, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (25/9/2017).
Belakangan, penayangan film tentang G30S/PKI menjadi kontroversi. Ini bermula setelah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memerintahkan jajarannya memutar film buatan 1984 dengan durasi 4 jam 31 menit itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini sejumlah daerah sudah memutar kembali film garapan sutradara Arifin C Noer itu, baik di sekolah maupun markas militer. Ada yang antusias menontonnya, ada pula yang mengantuk.
Jokowi kemudian berwacana membuat ulang film tersebut. Tujuannya agar sesuai dengan perkembangan zaman dan menarik minat generasi milenial.
"Untuk anak-anak milenial tentu saja mestinya dibuatkan lagi film yang memang bisa masuk ke mereka," kata Jokowi saat ditemui di Desa Mangunsuko, Dukun, Magelang, Jawa Tengah, Senin (18/9).
Namun pernyataan ini dipandang berbeda oleh Amien Rais. Menurut dia, justru usulan tersebut bisa memberi angin segar kebangkitan PKI.
"Yang jelas sekarang ini rezim Jokowi secara nggak disadari memberikan angin kebangkitan PKI. Itu yang bahaya," kata Amien, Minggu (24/9).
Setelah itu, Menko Polhukam Wiranto juga sudah menimpali lagi. Menurutnya, ajakan nonton bareng film itu tak harus menjadi polemik.
Baca juga: Menkopolhukam Bicara Soal Film G30S/PKI |
"Ajakan atau anjuran menonton tak perlu dipolemikkan, apalagi sampai membuat bangsa ini bertengkar dan berselisih. Anjuran Presiden untuk mempelajari sejarah kebangsaan dengan menyesuaikan cara penyajian agar mudah dipahami oleh generasi milenium, merupakan kebijakan yang rasional," kata Wiranto di kantornya kemarin. (bag/dkp)











































