Berdasarkan pantauan detikcom, pos milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi di Desa Rendang, Karangasem, Bali, itu pada Senin (25/9/2017) ramai oleh warga, jurnalis, dan peneliti vulkanologi. Puluhan orang tersebut sepertinya sudah terbiasa dengan gempa-gempa kecil yang dirasakan hampir setiap jam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika gempa kecil dirasakan di pos, tak ada keriuhan atau keterkejutan. Seolah kesejukan udara di pos pengamatan mengantarkan kesunyian untuk orang-orang di pos tersebut.
Berbeda dengan salah satu ruang terbatas di pos pengamatan, ruang monitor. Kesunyian seolah menggambarkan betapa kerasnya tiga peneliti di dalam ruang monitor menganalisis setiap data seismik dari Gunung Agung.
Petugas memantau pergerakan gunung (David/detikcom) |
Satu unit alat seismograf terus bergoyang memberikan 'gambar rumput' yang menunjukkan kekuatan gempa Gunung Agung. Alat itu tiltmeter, yang dipasang di ruang terbuka, merekam deformasi gunung, yakni tingkat penggelembungan Gunung Agung.
"Kita memantau dari seismik. Ada indikasi kenaikan dan kalau asap kawah kemarin ada dan hanya salah satu indikasi. Hari ini berawan, ya jadi ada asap kawah atau tidak, kita tidak tahu," kata Kepala PVMBG Kasbani di pos pengamatan.
Dua layar monitor komputer menyajikan data digital untuk dua peneliti melakukan analisis. Satu peneliti menganalisis data analog yang terekam, tak ada suara dikeluarkan dari ketiganya dan mereka tampak tenang. (vid/rvk)












































Petugas memantau pergerakan gunung (David/detikcom)