"Pada saat bersamaan, kami juga melakukan survei terkait popularitas dan elektabilitas partai politik di Jawa Timur," kata Direktur Alvara Research Center Hasanuddin Ali kepada wartawan di Surabaya, Minggu (24/9/2017).
Alvara Research Center menggelar survei pada minggu ketiga dan keempat Agustus 2017, dengan menggunakan metode multistage random sampling. Responden yang disurvei sebanyak 1.200 orang yang tersebar secara proporsional di 38 kabupaten dan kota di Jatim. Survei ini mempunyai tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error 2,8 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasanuddin yang sering mengikuti forum riset pemasaran tingkat internasional di berbagai negara ini menerangkan, tingkat pengenalan PDIP sama tingginya baik di kalangan masyarakat pedesaan maupun perkotaan.
"Sedangkan partai lain lebih terpolarisasi tingkat pengenalannya," ujarnya.
Ia mencontohkan, pengenalan partai Golkar dan PKB lebih tinggi di masyarakat pedesaan dibandingkan dengan masyarakat perkotaan.
"Berbeda dengan Demokrat, yang lebih dikenal di masyarakat perkotaan dibandingkan dengan pedesaan," tuturnya.
Meski demikian, tingkat popularitas partai belum paralel dengan tingkat elektabilitas partai. Katanya, ada temuan bahwa, peringkat pengenalan partai tidak mencerminkan rangking elektabilitas partai.
"Misalnya Golkar. Tingkat popularitas Golkar tertinggi kedua setelah PDIP. Tapi elektabilitasnya justru berada di posisi kelima," ujarnya.
Katanya, jika pemilu legislatif digelar pada saat survei, maka lima besar partai politik pilihan masyarakat adalah PDIP, PKB, Gerindra, Demokrat dan Golkar. PDIP menjadi partai pemenang di Jawa Timur dengan perolehan suara 26,4 persen. PKB menempati urutan kedua dengan 13,7 persen. Gerindra 13,1 persen. Demokrat 6,6 persen dan Golkar 4,7 persen.
"Sedangkan partai lainnya seperti NasDem medapatkan 2,4 persen. PPP 1,5 persen. PAN, PKS, Perindo masing-masing 0,8 persen. Hanura 0,3 persen," terangnya sambil menambahkan, responden yang belum menentukan pilihan sebesar 28,1 persen.
Hasanuddin menambahkan, peta partai politik ini masih sangat cair. Menurutnya, menjelang pemilu legislatif, perubahannya akan sangat terasa.
"Karena kader partai, terutama yang menjadi caleg akan sangat gencar turun ke masyarakat, sehingga bisa mengubah peta," tandasnya. (roi/dhn)











































