DetikNews
Minggu 24 September 2017, 14:21 WIB

Ketum PAN Setuju soal Remake Film G30S/PKI, Asal Tak Ubah Substansi

Bisma Alief Laksana - detikNews
Ketum PAN Setuju soal Remake Film G30S/PKI, Asal Tak Ubah Substansi Zulkifli Hasan (Foto: Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Ketum PAN Zulkifli Hasan setuju dengan usulan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin membuat remake film G30S/PKI untuk generasi milenial. Zulkifli setuju karena menanggap film yang sudah ada sekarang durasinya terlalu panjang.

Zulkifli ingin bila nantinya rencana Jokowi tersebut benar-benar terlaksana, film baru tersebut dibuat lebih ringkas. Namun, dia juga mengingatkan agar substansi dari film tersebut tidak ada yang berubah.


"Setuju (remake film G30S/PKI). Agar ada versi yang ringkas. Tapi substansi tetap. Misal jenderal yang dibunuh. Kan nggak berubah, nggak bisa berubah. Itu kan fakta," kata Zulkifli usai menikahkan anaknya di Grand Ballroom Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (24/9/2017).

Zulkifli sendiri tahu alasan Jokowi ingin membuat remake film G30S/PKI. Dia paham bila durasi film yang hampir 4 jam membuat film tersebut sulit untuk ditonton oleh anak-anak muda. Ketua MPR itu juga mengaku tidak kuat saat partainya mengadakan nobar film G30S/PKI beberapa waktu lalu.

"Tapi memang 4 jam itu lama sekali. Apa bisa anak muda generasi milenial nonton 4 jam. Saya kira kan tidak mudah itu. Kalau ada versi agak singkat, satu jam setengah. Saya kira itu sedang tuh. Kalau anak muda 4 jam punya waktu khusus sulit. Saya nonton 4 jam, dari jam 9 malam sampai jam 1 pagi, kita masuk angin kita," ucap Zulkifli.

Dia menyesalkan masih adanya orang-orang yang meributkan soal PKI hari ini. Menurutnya, PKI adalah sejarah kelam yang sudah selesai.


"Begini, kita jangan lagi berkelahi soal PKI. Itu kan sejarah kelam yang harus dijadikan pelajaran, yang harus diketahui semua orang untuk jadi pelajaran. Itu sudah selesai kan," tegasnya.

Karena itu, dia tidak mau lagi ada polemik soal nobar film G30S/PKI. Karena Zulkifli menilai semua dikembalikan lagi pada hak setiap orang apakah ingin menonton atau tidak.

"Nah artinya mari kita hentikan silang sengketa. Kalau yang mau tonton silahkan. Kalau tidak, nggak apa-apa. Nggak usah kalau mau tonton saja kita bertengkar. Kita ini yang harus kita tengkarkan bagaimana kita miliki daya saing, itu boleh. Masa soal nonton dipertengkarkan," pungkasnya.
(bis/dhn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed