"Yang dilihat dalam OTT bukanlah berapa kerugian negara. Yang dilihat siapa aktor yang melakukan," ujar Tama di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (23/9/2017).
Menurut Tama, besaran rupiah merupakan pertimbangan OTT setelah profil pelaku. Jikapun ada OTT kepada hakim namun nilainya hanya puluhan juta, Tama menilai unsur hakim yang jadi kegentingan kegiatan OTT.
"Frasa receh kerugian negara minimal tidak dikenal. Soal suap ditangkap tangan nggak bicara minimal Rp 1 miliar," tegas Tama.
"Kalau hakim, hakim susah juga. Pejabat lain, anggota legislatif menteri sekalipun itu orang high rank (punya status tinggi)," sebut dia.
(gbr/dnu)











































