"Itu memang fenomena alamiah. Setiap tahun dua kali. September dan Maret. Ini fenomena yang rutin. Fenomena astronomi ini alamiah setiap tahunnya pasti terjadi, terutama di 21-22 Maret dan 22-23 September," kata Harry ketika dihubungi detikcom, Jumat (22/9).
Baca juga: Fenomena Equinox dan Gerhana Satelit |
Dia menjelaskan, equinox ialah gerak semu matahari yang berada tepat di atas garis Khatulistiwa. Fenomena ini disebabkan pergerakan bumi pada porosnya atau rotasi bumi dan evolusi (pergerakan) bumi terhadap matahari.
Meski demikian, Harry mengatakan, fenomena ini tak berelasi langsung dengan meningkatnya suhu di bumi. "Ya (sama dengan yang terjadi di Maret). Tidak serta-merta membuat suhu (di bumi) langsung tinggi. Jadi normal saja. Tak serta-merta berpengaruh," ujarnya.
Harry mengimbau masyarakat tetap tenang dan menjalankan kegiatan seperti biasa. Fenomena ini juga tak membahayakan tubuh. Hanya, Harry meminta masyarakat mengkonsumsi makanan sehat dan menjaga kondisi tubuh. Sebab, equinox menjadi penanda pergantian musim, terutama di daerah tropis.
"Tidak ada (dampak pada kesehatan). Hanya saja, BMKG tidak pernah menyarankan masyarakat untuk tidak keluar. Itu isu bukan dari BMKG. Silakan masyarakat lakukan aktivitas seperti apa adanya. Kondisi September masa transisi. Karena kadang hujan dan kadang tidak. Yang perlu diantisipasi, konsumsi air minum dan konsumsi makanan yang tepat untuk menjaga tubuh tetap fit," tutur Harry. (jbr/imk)











































