DetikNews
Kamis 21 September 2017, 10:28 WIB

10 Bayi Telah Lahir di Pondok Tapal Batas Ini

Danu Damarjati - detikNews
10 Bayi Telah Lahir di Pondok Tapal Batas Ini Foto: Danu Damarjati/detikcom
Sanggau - Jelang sore di desa tapal batas kawasan Entikong, Kalimantan Barat, di sebuah warung pinggir Desa Suruh Tembawang, sejumlah pria menikmati teh hangat. Si penjual, perempuan usia 39 tahun, sedang mematangkan gorengan.

Saat gorengan hendak disajikan, Kepala Desa Suruh Tembawang Gak Mulyadi memberitahu. "Itu yang masak itu Ibu Bidan," katanya saat detikcom berkunjung ke Suruh Tembawang, Minggu (16/7/2017).
10 Bayi Telah Lahir di Pondok Tapal Batas IniFoto: Danu Damarjati/detikcom

Ternyata Bu Bidan memang sengaja nyambi berjualan sembari menunggu adanya pasien yang datang ke Pondok Bersalin Desa (Polindes) di sebelah warung. Sejumlah pengganjal perut pelintas pelosok tapal batas ada di sini, seperti mi instan, minuman, hingga gorengan. Rata-rata yang berkunjung kakinya kotor semua, kena lumpur medan tak bersahabat.

"Kalau sedang nggak ada pasien ya begini, masak-masak begini," kata Bu Bidan yang belakangan kami tahu namanya adalah Lusiana.

Sudah hampir 20 tahun dia jadi bidan. Lusiana adalah perempuan asli Kabupaten Bengkayang yang menikah dengan warga kampung sini. Maka kini dia mengabdikan diri untuk masyarakat pelosok perbatasan di Suruh Tembawang.
10 Bayi Telah Lahir di Pondok Tapal Batas IniFoto: Danu Damarjati/detikcom

Dia kemudian mengajak kami untuk mengunjungi Polindes-nya di sebelah warung. Bentuknya adalah pondokan dari kayu, dilengkapi kursi dan bilik pemeriksaan di dalamnya. Ada obat-obatan yang disediakan agar pasien yang memerlukan tak usah terlalu lama menunggu.

Pondokan dari kayu ini dia bangun dengan biaya Rp sekitar 20 juta pada dua tahun lalu, sejak Jalan Paralel Perbatasan terbuka sampai desa ini. Sebenarnya ada Polindes di tengah perkampungan Suruh Tembawang, namun kondisinya reyot sudah dimakan rayap.

"Polindes yang di bawah (perkampungan) sudah rusak parah. Sudah diusulkan ke pemerintah sejak 2008, tapi belum ada realisasinya. Karena mereka prioritaskan ke daerah yang tidak ada Polindes sama sekali," kata Lusiana.
10 Bayi Telah Lahir di Pondok Tapal Batas IniFoto: Danu Damarjati/detikcom

Dia dan keluarga tinggal di perkampungan. Meski begitu, rumahnya juga selalu siaga menerima pasien yang datang, tengah malam pun harus dilayani. Biasanya warga sini periksa soal kehamilan, pelayanan KB, memeriksakan kesehatan anak, hingga orang yang sedang masuk angin. Melongok ke bilik, ada kasur untuk pelayanan bersalin ibu hamil.

"Sudah ada 10 orang yang bersalin di sini," kata dia sambil menunjuk kasur di bilik.

10 Bayi generasi masa depan kawasan tapal batas lahir di pondok sederahan ini. Lusiana menggratiskan biaya pelayanan di sini kecuali untuk menebus obat. Dia menyediakan obat yang dibeli sendiri, karena obat generik dari pusat Kecamatan Entikong sering kurang jumlahnya untuk sampai ke pelosok.
10 Bayi Telah Lahir di Pondok Tapal Batas IniFoto: Danu Damarjati/detikcom

Orang-orang yang datang bersalin ke sini bukan hanya dari kampung dekat sini saja, namun ada pula yang berasal dari kampung-kampung yang lebih jauh. Pasen dari kampung Sekajang sering kemari, hamil dan berjalan kaki, karena bila naik motor justru mengkhawatirkan karena permukaan jalan di sini sungguh tidak ramah.

"Kalau terlau jauh, kita bakal 'jemput bola' menuju dusun lain. Kalau musim hujan kita harus jalan kaki satu jam atau dua jam," kata Lusiana.

Pada dasarnya 10 dusun di Desa Suruh Tembawang bisa dilayaninya. Namun jarak antardesa kadang tak masuk akal untuk ditempuh. Misalnya untuk ke desa yang mepet dengan perbatasan Malaysia, yakni Gun Tembawang dan Gun Jemak, perlu delapan jam jalan kaki ke sana. Bila menunggu bantuan dirinya terlalu lama, maka para perempuan di pelosok desa biasanya bersalin dengan bantuan dukun beranak.
10 Bayi Telah Lahir di Pondok Tapal Batas IniFoto: Danu Damarjati/detikcom

"Kalau warga dari Dusun Suruh, Kebak Raya, dan Sekajang, biasanya kemari," tuturnya sambil menyebut tiga dusun yang dekat.

Tak lama, ada pasien yang hendak memeriksakan diri. Lusiana membuka tirai mempersilakan pasien masuk bilik periksa di pondok ini. Ada sel surya yang terpasang di pondok ini, cukup untuk menyediakan listrik sekadarnya.

Lusiana adalah bidan berstatus Pegawai Negeri Sipil. Gajinya sekitar Rp 3 juta per bulan, sebagian disisihkan untuk membeli obat-obatan untuk Polindes ini. Suaminya bekerja sebagai pedagang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sanggau 2017, sarana kesehatan pemerintah di Kabupaten Sanggau ini terdiri dari 4 rumah sakit, 19 Puskesmas, 90 Puskesmas Pembantu, dan 158 Polindes. Barangkali Polindes yang dikelola Lusiana adalah salah satunya. Tercatat oleh BPS, ada 5 Polindes di Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau ini.
10 Bayi Telah Lahir di Pondok Tapal Batas IniFoto: Danu Damarjati/detikcom

Menurut pengalaman Lusiana, orang-orang di Suruh Tembawang sering mengeluhkan darah tinggi dan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) bila musim kemarau sedang beralih ke musim penghujan. Bila melihat data BPS yang mencatat jumlah kasus 10 penyakit terbanyak di Kabupaten Sanggau tahun 2015, ISPA akut memang menjadi penyakit paling banyak diderita di kabupaten ini, yakni sebesar 30,72 persen dengan jumlah 34.722 kasus, disusul penyakit diare sebanyak 15,24 persen dengan jumlah 17.228 kasus. Urutan ketiga ada penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat pada angka 13,49 persen, jumlahnya ada 15.249 kasus. Urutan keempat ada penyakit tekanan tingkat tinggi sebanyak 9,77 persen dengan 11.046 kasus.

Untuk data 2016, dari 9.050 keahiran bayi, di antaranya ada 25 bayi yang lahir dalam kondisi gizi buruk. Jumlah bayi berat badan lahir rendah ada 125 bayi. BPS mengutip data ini dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau.
(dnu/jor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed