"Banyak kiai yang dapatkan kiriman melalui WhatsApp dan lain-lain, isinya sejumlah fitnah, narasi ujaran kebencian. Maka itu, soal ujaran kebencian akan jadi materi acara alim ulama di Lombok nanti. MUI (Majelis Ulama Indonesia), PBNU, Muhammadiyah, dan lain-lain agak susah menyetop berita-berita hoax di HP ulama karena (ulama yang mengirim) masuk di sana juga. Karena ulamanya bagian grup di WhatsApp itu," kata Moqsith dalam diskusi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/9/2017).
Abdul Moqsith mengaku khawatir terhadap dampak konten kebencian dan hoax yang merajalela. Menurut dia, tersebarnya informasi-informasi yang tak benar dapat membawa dampak yang masif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Moqsith mengibaratkan hoax berbalut ujaran kebencian saat ini seperti menu sarapan pagi.
"Sekarang ini orang sarapannya bukan nasi uduk. Karena pagi-pagi sudah terima hoax," ucap dia. (aud/rvk)











































