"Banyak kiai yang dapatkan kiriman melalui WhatsApp dan lain-lain, isinya sejumlah fitnah, narasi ujaran kebencian. Maka itu, soal ujaran kebencian akan jadi materi acara alim ulama di Lombok nanti. MUI (Majelis Ulama Indonesia), PBNU, Muhammadiyah, dan lain-lain agak susah menyetop berita-berita hoax di HP ulama karena (ulama yang mengirim) masuk di sana juga. Karena ulamanya bagian grup di WhatsApp itu," kata Moqsith dalam diskusi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/9/2017).
Abdul Moqsith mengaku khawatir terhadap dampak konten kebencian dan hoax yang merajalela. Menurut dia, tersebarnya informasi-informasi yang tak benar dapat membawa dampak yang masif.
"Timur Tengah hancur, dimulai dari syiar kebencian. Suriah, Mesir, Pakistan, Yaman, dan lain-lain juga mulanya dari syiar kebencian. Ulama yang baik justru dievaluasi, tapi orang jahat dianggap sebagai ulama. Masyarakat harus jeli, orang baik mana, orang seolah-olah baik mana. Jangan sampai kita tertipu, ujungnya kehancuran negara," ujar Moqsith.
Moqsith mengibaratkan hoax berbalut ujaran kebencian saat ini seperti menu sarapan pagi.
"Sekarang ini orang sarapannya bukan nasi uduk. Karena pagi-pagi sudah terima hoax," ucap dia. (aud/rvk)











































