DetikNews
Rabu 20 September 2017, 13:54 WIB

Detik-detik Evakuasi 7 Jenazah Pahlawan Revolusi dari Lubang Buaya

Erwin Dariyanto, Rois Jajeli - detikNews
Detik-detik Evakuasi 7 Jenazah Pahlawan Revolusi dari Lubang Buaya Foto: Film G30S/PKI (ist.)
Surabaya - "Tjita-tjita perdjoeangan kami untuk menegakkan kemurnian Pantjasila tidak mungkin dipatahkan hanja dengan mengubur kami dalam sumur ini. Lubang Buaya 1 Oktober 1965".

Sebaris kalimat itu menjadi pembuka film G 30 S/PKI yang diucapkan dengan suara bergetar. Kata-kata itu diambil dari sebuah kalimat yang tertulis dalam batu nisan di atas sumur Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Di sumur berdiameter 75 senti meter dan kedalaman 12 meter itulah pada 1 Oktober 1965 jenazah 6 jenderal TNI AD dan satu perwira menengah dikubur oleh sebuah gerakan yang menamakan dirinya Gerakan 30 September. Gerakan ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung.

Ketujuh jenazah itu sengaja dimasukkan ke dalam sumur untuk menghilangkan jejak. Namun dua hari kemudian tepatnya 3 Oktober 1965, atas laporan dari Agen Polisi Dua Sukitman TNI AD berhasil menemukan sumur tersebut.

Baca juga: Cerita Eks Marinir Saat Evakuasi Korban PKI dari dalam Sumur

Tapi pasukan RPKAD yang dipimpin Letnan Sintong Panjaitan tak kuasa melakukan evakuasi. Selain hari mulai gelap, perlengkapan pun amat terbatas. Akhirnya, kata Sintong dalam buku 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando', Pangkostrad Mayor Jenderal Soeharto meminta bantuan Panglima KKO (Marinir) Mayjen Hartono.

Prajurit marinir yang diminta bertugas adalah Lettu Mispan. Sehari-hari dia sebetulnya bertugas di Surabaya tapi hari itu tengah di Jakarta untuk suatu urusan. Mispan mengajak dua temannya, Pembantu Letnan Satu (Peltu) Kandouw dan Peltu Sugimin.

Kala itu Kandouw adalah anggota Sipam (Sekolah Intai para Amfibi), dan Sugimin anggota pasukan Kipam (Kompi Intai para Amfibi). Oleh Letnan Niswan Sutarto, atasan Mispan, Kandouw diminta mencari teman-temannya untuk diajak ke Lubang Buaya.

"Jadi ketemu di jalan, ayo Min (Sugimin) melok (iku). Nang endi (ke mana)? Lubang buaya. Mereka nggak tahu Lubang Buaya iku opo. Cuma ketemu di jalan, saya nunjuk-nunjuk begitu saja. Ada 9 orang," tutur Kandouw saat ditemui detikcom, Selasa (19/9/2017), di kediaman Sugimin di Surabaya.



Menjelang tengah malam, Kandouw melanjutkan, terkumpul sembilan anggota KKO, satu dokter gigi, satu dokter umum, dan sopir. Pada 4 Oktober 1965 dini hari, pukul 04.00 WIB, rombongan KKO berangkat menuju Lubang Buaya tanpa tahu lokasi persisnya.

Kandouw hanya tahu bahwa Lubang Buaya ada di daerah Halim dekat Cililitan. Setelah dua jam berputar-putar di Cililitan akhirnya mereka sampai di Halim. Tapi pasukan RPKAD tak mengizinkan mereka masuk ke lokasi. Adu muut pun sempat terjadi di antara dua kelompok prajurit pasukan elit tersebut.

"Saya bertengkar mulut dengan mereka, terus dokter Sumarno itu datang. Sudah Ndow, kalau memang nggak boleh masuk, ya pulang saja kita. Wong kita mau kerja kok, mau membantu. Yo wes (ya sudah). Nggak boleh masuk ya pulang," kata Kandouw.

Sementara di lokasi Lubang Buaya, pasukan RPKAD dalam keadaan tegang. Ketegangan baru bisa diatasi tatkala Mayjen Soeharto datang. "Mana anak – anak KKO yang saya minta datang ke sini?" tanya Soeharto.

"Langsung namanya Kapten Sukendar masuk, terus laporan. Mereka KKO yang akan menolong sudah ada di depan. Suruh mereka masuk. Baru kita diperbolehkan masuk," kata Kandouw.

Menjelang tengah hari, evakuasi dimulai dipimpin oleh Komandan KIPAM KKO-AL Kapten Winanto. Satu persatu pasukan KKO dan satu prajurit RPKAD turun ke dalam sumur yang sempit itu.

Pukul 12.05 WIB, anggota RPKAD Kopral Anang dengan mengenakan masker dan tabung oksigen turun ke dalam sumur. Sepuluh menit kemudian giliran Serma KKO Suparimin turun. Dia berhasil mengangkat salah satu jenazah, tapi rupanya jenazah itu tertindih jenazah lain sehingga tak bisa ditarik.

Pukul 12.30 WIB, Prako KKO Subekti mendapat giliran berikutnya. Dua puluh menit kemudian Kopral KKO Hartono memasang tali untuk mengangkat jenazah dari dalam sumur.

Pukul 13.30 WIB, Serma KKO Suparimin kembali turun untuk kedua kalinya. Hingga pukul 13.30 WIB ada enam jenazah yang berhasil diangkat ke atas. Kapten Winanto turun ke dalam sumur untuk memastikan tak ada jenazah lagi di Lubang Buaya.

Dengan membawa alat penerangan, Kapten Winanto turun ke dalam sumur. Dan satu jenazah lagi ditemukan. Setelah dua jam jenazah tujuh pahlawan revolusi berhasil dievakuasi dari Lubang Buaya.

Kini TNI memerintahkan prajuritnya untuk memutar dan menggelar acara nonton bareng film G 30 S/PKI. Film akan diputar pada 30 September 2017 malam.
(erd/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed