DetikNews
Rabu 20 September 2017, 10:42 WIB

Klaim Dialog Gaib di Balik Penemuan Jenazah Korban Buaya

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Klaim Dialog Gaib di Balik Penemuan Jenazah Korban Buaya Ilustrasi buaya/Foto: AFP
Pekanbaru - Ada pengakuan yang isinya tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat terkait penemuan jasad korban buaya di Riau. Percaya nggak percaya, warga bernama Tuslam mengaku mendapatkan bisikan gaib dan berdialog dengan buaya.

Tuslam (53) adalah petugas satpam perkebunan sawit di Kecamatan Bagan Sinembah Raja, Kab Rokan Hilir (Rohil), Riau. Korban adalah pelanggan warung milik Tuslam.

Awalnya, ada warga yang minta air doa kepada ustaz di kampung sebagai ikhtiar mencari Suprianto yang hilang. "Pak Dullah itu sempat meminta bantuan pak ustaz di kampung ini. Katanya, korban sudah dimakan buaya," kata Tuslam, Selasa (19/9/2017).

Pada Jumat dan Sabtu, warga pun terus mencari korban yang hilang. Nah, pada Minggu (17/9) pagi, sekitar pukul 06.30 WIB, Tuslam seperti mendapat bisikan gaib dari batinnya dengan yang disebut Tuslam sebagai raja buaya yang ada di kawasan itu.

"Saya memang berniat mencari Suprianto, karena dia saya kenal baik. Dia sering belanja ke warung saya," kata Tuslam.

Dalam bisikan gaib itu, Tuslam diminta memberikan penghormatan kepada buaya berupa bunga 7 rupa, uang logam, dan rokok sebatang, yang harus dihanyutkan di kanal dengan pelepah pisang.

"Atas bisikan itu, ya saya coba sajalah. Saya tidak tahu dengan siapa saya berdialog kebatinan itu, tapi saya yakin itu betul permintaan dari Datuk. Jadi saya hanyutkan permintaan itu," kata Tuslam.

Setelah menghanyutkan persyaratan itu, badannya meriang. Dia pulang ke rumah, namun ada bisikan gaib lagi.

"Ada bisikan lagi, kenapa harus pulang, bukannya mau meminta jasad korban dipulangkan. Malam itu terus terjadi dialog, awak disuruh jemput jasad Suprianto yang sudah diantarkan buaya itu," kata Tuslam.

Tuslam pada Senin (18/9) pagi pukul 06.30 WIB kembali ke lokasi sendirian. Setiap 3 meter, Tuslam berhenti untuk memperhatikan semak-semak ilalang yang digenangi air setinggi 50 cm-1 meter.

"Tak lama, awak pun terkejut nengok buaya besar warna cokelat yang jaraknya paling sekitar 5 meter. Jantungan awak dibuatnya," cerita Tuslam.

Begitu bertemu buaya itu, lanjut Tuslam, buaya paling besar berukuran panjang sekitar 5 meter langsung pergi. Di lokasi itu juga ada buaya kedua berukuran lebih kecil dengan panjang sekitar 2 meter.

"Nggak lama jumpa, buaya paling besar menyelam duluan dan disusul yang kecil. Tapi waktu itu awak belum nengok jasad Suprianto," kata Tuslam.

Di lokasi, menurut Tuslam, dia kemudian mengaku berbicara secara gaib dengan para buaya itu. Menurut Tuslam, dia dikontak lebih dulu.

"Ya, awak bilang dalam omongan itu, tapi ya omongan batin gitulah. Karena rasanya kok ada yang mau mengajak awak ngomong. Jadi awak sampaikan saja, tolonglah pulangkan kepala kawan aku itu. Kan persyaratan yang kau minta sudah aku kasih," kata Tuslam.

Kata Tuslam, sang buaya bersedia mengembalikan bagian tubuh Suprianto. Buaya itu berjanji segera memulangkan bagian tubuh tersebut.

Itu sebabnya, pada Selasa (19/9), Tuslam kembali mendatangi lokasi semula tempat ditemukannya organ tubuh Suprianto. Sampai di lokasi itu, lagi-lagi Tuslam dan buaya berdialog.

"Awak bilang sama dia (buaya), katanya mau mulangkan, kok belum dipulangkan. Aku sudah nunggu ini," kata Tuslam dalam perbincangan itu.

Masih menurut Tuslam, tak lama dari dialog itu, dia berjalan sekitar 7 meter dari lokasi pertama. Ternyata di lokasi itu dia menemukan empat tulang rusuk korban.

"Waktu awak jumpa tulang rusuk itu, awak sampaikan juga, mana kepalanya. Tolonglah pulangkan, kan kasihan dia (Suprianto)," kata Tuslam.

Masih menurut Tuslam, di lokasi itu dia datang sendiri dengan motor. "Dibilangnya ke awak, kepala Suprianto sudah dipulangkan. Katanya kepalanya sudah dipulangkan, cuma nggak tampak karena tertutup sampah. Tapi sudah awak cari-cari tak ada juga," kata Tuslam.

Malah, kata Tuslam, buaya itu mengajaknya berenang agar ditunjukkan lokasi kepala Suprianto. "Awak sudah mau berenang untuk mencari kepala Suprianto. Malah tas, motor, sepatu awak kumpulkan dan ditaruh di atas motor. Kalaupun nanti awak berenang tak timbul lagi, orang bisa tahu kalau awak hilangnya di lokasi ini," kata Tuslam.

Tapi niat Tuslam berenang bersama buaya itu dibatalkan. Ini karena Tuslam merasa keluarga Suprianto sudah meninggalkan Rohil dan terkesan tidak mencari sampai habis sisa organ tubuhnya.

"Cemanalah ya mau awak bilang, maunya awak berenang mencari kepalanya sama buaya itu. Tapi awak merasa keluarganya saja sudah tak mau mencari sisanya lagi," katanya.

Meski begitu, kata Tuslam, dia tetap akan berusaha mencari kepala Suprianto yang belum ditemukan. "Awak masih minta terus sama dia (buaya) supaya dipulangkan (kepala Suprianto)," tutur Tuslam.
(fjp/fay)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed