Gus Dur Tak Rela Dicatut Alwi
Kamis, 19 Mei 2005 12:25 WIB
Jakarta - Dulu kawan, kini berseberangan. Itulah yang terjadi antara KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan Alwi Shihab. Perang kata-kata masih mereka gencarkan. Gus Dur tidak rela namanya dicatut Alwi. Selama ini, Gus Dur merasa namanya dicatut Alwi terkait berbagai manuver yang dilakukannya untuk menggembosi PKB pimpinan Muhaimin Iskandar. Dalam 'kampanyenya' Alwi mengklaim sebagai ketua umum DPP PKB dengan Gus Dur sebagai ketua dewan syuro-nya, sesuai hasil Muktamar Luar Biasa (MLB) Yogyakarta 2002. Langkah Alwi ini membuat Gus Dur resah. Akhirnya, Gus Dur pun membuat surat pribadi. Surat itu diteken pada Kamis (19/5/2005) pukul 00.15 WIB. Surat ditujukan kepada para kiai dan ulama, agamawan dan tokoh masyarakat serta jajaran struktural PKB, dan seluruh kader pendukung dan simpatisan PKB. Ada tiga poin yang disampaikan Gus Dur dalam suratnya itu. Pertama, DPP PKB 2002-2005 hasil MLB di Yogyakarta telah dinyatakan demisioner oleh peserta Muktamar II PKB di Semarang. "Jika masih ada pihak-pihak tertentu yang mencantumkan nama saya dalam jajaran DPP PKB yang telah didemisioner, itu merupakan tindakan yang tidak benar, dilakukan tanpa izin dan di luar sepengetahuan saya," tulis Gus Dur. Kedua, Gus Dur menegaskan bahwa Muktamar II PKB Semarang sudah sesuai dengan ketentuan AD/ART yang berlaku dan UU nomor 31/2002 tentang parpol dan sudah bersifat final. Semua masalah yang timbul setelah itu, tetap dapat dan harus diselesaikan, dengan syarat menerima Muktamar II PKB. Ketiga, demi menjaga keutuhan dan soliditas partai, Gus Dur meminta kepada semua pihak untuk tidak berpecah belah, tidak mudah terprovokasi, dan tetap tunduk dan setia pada pimpinan dan kepemimpinan hasil muktamar Semarang.
(asy/)











































