DetikNews
Selasa 19 September 2017, 20:50 WIB

Cerita Eks Marinir Saat Evakuasi Korban PKI dari dalam Sumur

Rois Jajeli - detikNews
Cerita Eks Marinir Saat Evakuasi Korban PKI dari dalam Sumur Eks anggota Marinir menceritakan mencekamnya proses evakuasi jenderal TNI yang jenazahnya dibuang ke dalam sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur. (Rois Jajeli/detikcom)
Jakarta - Eks anggota Marinir menceritakan mencekamnya proses evakuasi jenderal TNI yang jenazahnya dibuang ke dalam sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur, saat peristiwa G30S/PKI. Kondisi sumur yang sangat gelap membuat tim tidak mengenali para korban di dalam sumur. Mereka bahkan tidak sadar jika mengikat dua jenazah menjadi satu.

"Yang paling serem kejadian (evakuasi) Pak Utoyo (Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo) dan Pak A Yani (Letjen TNI Ahmad Yani)," kata Pembantu Letnan Dua (Purn) J Kandouw kepada detikcom di kediaman Pelda (Purn) Sugimin, rekannya sesama tim evakuasi, di Jalan Ketintang Baru XII, Surabaya, Selasa (19/9/2017).

Kedua prajurit KKO (sekarang Marinir) menceritakan proses evakuasi 7 jenazah (6 jenderal dan 1 perwira pertama) di tempat pembuangan di sumur tua Lubang Buaya, yang kedalamannya 12 meter dan berdiameter 75 sentimeter.

Ketika proses evakuasi terhadap kedua jenderal, Letjen A Yani dan Brigjen Sutoyo, seorang anggota tim evakuasi turun ke dalam sumur. Tim kemudian mengikat kedua jenazah menjadi satu.

"Diikat, kebetulan katut (ikut) dua orang, kan kondisi di dalam sumur tidak kelihatan, asal saja diikat," tuturnya.

Suasana gelap di dalam sumur membuat tim tidak sadar jika mengikat jenazah Letjen TNI Ahmad Yani dan Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo menjadi satu. Pengangkatan jenazah keluar dari sumur berjalan lancar. Namun, saat jenazah tiba di bibir sumur, tali pengikat jenazah putus.

Kedua jenazah Pahlawan Revolusi itu pun tercebur kembali ke dalam sumur. Tim evakuasi masuk lagi ke dalam sumur dan mengikat satu per satu jenazah.

"Talinya putus karena rantas (mudah putus). Padahal sudah sampai di bibir sumur," tutur Kondouw, yang diiyakan Sugimin.

Kundouw menambahkan, ketika jenazah Letjen A Yani dievakuasi yang kedua kalinya dari sumur di Lubang Buaya, Kandouw terkejut melihat kondisi leher Panglima Angkatan Darat itu.

"Jadi, saat diangkat, langsung terkulai itu. Jadi saya kaget, terus plek. Saya terus lihat jelas, itu saya lihat. Ada bekas sayatan, tapi (leher) tidak putus," jelasnya.

Proses evakuasi seluruh korban dari dalam sumur berlangsung selama 2 jam. Korban yang diangkat dari dalam sumur adalah jenazah Letjen TNI Ahmad Yani (Panglima Angkatan Darat), Mayjen TNI R Suprapto, Mayjen TNI MT Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI DI Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo dan Serta Lettu Pierre Tendean.

Ketujuh jenazah langsung dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, untuk dilakukan visum.

Saat menjadi tim evakuasi, Sugimin berpangkat kopral KKO. Saat itu, Sugimin berdinas di Kompi Intai Para Amfibi (Kipam). Sedangkan J Kandouw berpangkat serda KKO dan menjadi pelatih di Sekolah Intai Para Amfibi.

Sebelum diterjunkan menjadi tim evakuasi perwira korban pembunuhan PKI, keduanya bertugas sebagai tim survei untuk menyelidiki Pantai Ancol dan membuat profil keadaan pantai. Profil tersebut untuk penempatan pendaratan tank.
(roi/nvl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed