DetikNews
Selasa 19 September 2017, 15:51 WIB

Gerindra Dorong Jokowi ke Myanmar, PKB: Bisa Ditemani Prabowo

Elza Astari Retaduari - detikNews
Gerindra Dorong Jokowi ke Myanmar, PKB: Bisa Ditemani Prabowo Wasekjen PKB Daniel Johan. (Dok. Istimewa)
Jakarta - Partai Gerindra mendorong Presiden Joko Widodo datang ke Myanmar terkait konflik kemanusiaan Rohingya. PKB sebagai partai pendukung pemerintah menilai langkah tersebut tidak perlu.

"Menurut saya, tidak perlu Presiden Jokowi sampai ke Myanmar, kan kemarin Menlu sudah diutus ke sana," kata Wasekjen PKB Daniel Johan dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (19/9/2017).

Menurut Daniel, lebih baik Jokowi fokus bekerja di Indonesia. Apalagi ada berbagai masalah di dalam negeri yang perlu diselesaikan Presiden.


"Yang penting solidaritas bantuan kemanusiaan sudah dikirim dan dipastikan terdistribusi dengan cepat dan tepat sasaran," ujar Daniel.

Meski begitu, bukan berarti PKB menolak usul Gerindra agar Presiden Jokowi datang ke Myanmar. Daniel mengatakan bukan hanya Presiden Jokowi yang bisa berpartisipasi menunjukkan solidaritas untuk Rohingya, tapi juga tokoh-tokoh nasional lain, termasuk Ketum Gerindra Prabowo Subianto.

"Kalau dianggap kehadiran Pak Jokowi bisa mempercepat proses rekonsiliasi dan pemulihan kondisi di sana, bagus juga. Apalagi bila bisa ditemani oleh Pak Prabowo," tutur Wakil Ketua Komisi IV DPR itu.


Sebagai jenderal purnawirawan TNI, Prabowo dinilai bisa memahami konflik yang terjadi di Myanmar. Kehadiran Prabowo membantu etnis Rohingya di Myanmar dianggap akan bagus.

"Pak Prabowo kan juga punya banyak pengalaman teritori, jadi Presiden Jokowi dan Pak Prabowo bisa mewakili Indonesia membawa misi perdamaian," ucap Daniel.

Sebelumnya Prabowo mengatakan bantuan yang dikirimkan pemerintah Indonesia untuk pengungsi Rohingya sebagai bentuk pencitraan. Pernyataan itu menuai pro dan kontra.

Membela sang ketum, Ketua DPP Gerindra Ahad Riza Patria kemudian menyebut pemerintah harus lebih aktif membantu Rohingya. Dia mencontohkan langkah yang ditempuh Presiden Soeharto saat terjadi konflik di Bosnia.

"Dulu pada zaman Bosnia terjadi, Pak Harto sampai datang ke Bosnia, bayangkan. Tahun '97 kalau nggak salah, padahal waktu itu berbahaya sekali, bisa ditembak pesawatnya, pesawat terbang ditembak, apalagi yang mendarat di Bosnia," sebut Riza.


"Pak Harto dulu sampai nggak pakai rompi antipeluru. Dia ingin menunjukkan, pertama, urusan mati urusan Allah. Dia ingin menunjukkan ada konsistensi Indonesia prihatin membantu Bosnia, tunjukkan dengan datang," imbuh dia.

Mengacu pada sejarah itu, Riza ingin Jokowi juga mengunjungi langsung Myanmar. Langkah mengutus Menlu RI Retno LP Marsudi untuk berdiplomasi dinilai Riza kurang tepat.

"Mungkin ada baiknya Pak Jokowi datang ke Rohingya, jangan kirim Menlu, lain, jangan kirim Wapres (JK) ke OKI, beda, harus Presiden. Pak Harto aja berani ke medan perang loh, kalau ke Myanmar tuh bukan medan perang itu, bukan pertempuran itu, itu pembasmian, datang," tandas Riza.
(elz/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed