Cantik, Sukses Berbisnis, Tak Alergi Berpolitik

Pemuda di Panggung Politik

Cantik, Sukses Berbisnis, Tak Alergi Berpolitik

Erwin Dariyanto - detikNews
Senin, 18 Sep 2017 18:43 WIB
Cantik, Sukses Berbisnis, Tak Alergi Berpolitik
Foto: Andhika Akbaryansyah/detikcom
Jakarta - Pada saat sebagian orang antipati terhadap politik, tidak demikian halnya dengan Micha Ferdinan Sindoro, Lindsey Afsari Puteri, dan Joice Triatman. Pada usia muda, mereka memutuskan terjun ke politik. Direktur Eksekutif Indo Barometer menyebut masuknya anak muda ke gelanggang politik adalah pertanda bagus.

Ibaratnya mereka memilih menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan di partai politik. Bagaimanapun, masa depan Indonesia 10 atau 20 tahun ke depan ada di tangan politikus muda saat ini. Apabila politikusnya baik, bisa dipastikan masa depan bangsa ini ke depan akan lebih bagus.

Micha, Joice, dan Lindsey memiliki alasan sendiri ketika memutuskan masuk dunia politik pada usia muda.

Micha Sindoro: Komentar Tak Tepat Sasaran

Micha Sindoro (Foto: Istimewa)
Pada usia 28 tahun, Micha Ferdinand Sindoro sudah terbilang sukses berbisnis. Pria kelahiran 17 Juli 1989 ini sudah menduduki jabatan sebagai Executive Director at Medicorp, yang bergerak di bidang pertambangan dan logam.

Namun, sejak Juli 2016 dia memutuskan terjun ke politik dengan bergabung ke Partai Golkar. Satu kata yang mendorong Mhica terjun ke politik: wawasan.

Menurut dia, selama ini masyarakat sering melihat politik dari segi wawasan dan pengetahuan yang terbatas. Walhasil, penilaian mereka atas politik juga terbatas. Orang banyak berkomentar, namun tidak tepat sasaran.

"Dengan terjun ke politik, kita akan belajar bagaimana politik bekerja dan dapat melihat medan politik dalam jarak yang lebih dekat, sehingga di kemudian hari opini dan saran kita semoga lebih bermanfaat," kata Micha, yang kini duduk sebagai salah satu pengurus di AMPG, organisasi sayap Partai Golkar.

Satu tahun dua bulan bergabung di Golkar, Micha pun bisa melihat banyak perubahan yang bersifat positif. Namun di sisi lain dia merasakan bahwa politik di Indonesia belum bisa terpisahkan dari urusan agama dan ras. Padahal semestinya, memilih pemimpin harus objektif berdasarkan kemampuannya atau visi-visi terhadap Indonesia.

"Kita ini NKRI. Kita harus bisa melihat satu sama lain sebagai keluarga besar yang sama-sama ingin melihat Indonesia maju dan terpandang," kata dia.

Micha optimistis bisa memisahkan urusan politik dengan bisnis. Apalagi sudah ada manajemen yang menjalankan perusahaan sehari-hari.

"Selain itu, secara kepentingan, semua usaha market-nya swasta sehingga tidak berkepentingan, berurusan, dengan politik. Dengan begitu, mudah dipisahkan," tuturnya.

Joice Triatman: Pengabdian Tertinggi

Joice Triatman (jas hitam) -- Foto: dok. Badja
Bagi Joice Triatman, orang yang antipati terhadap politik tak sepenuhnya salah, tapi juga tidak semuanya benar. Antipati itu lahir karena banyaknya politikus yang berpolitik tanpa mengindahkan nilai-nilai kebaikan.

"Hal inilah yang perlu diperbaiki, agar masyarakat tidak lagi antipati terhadap politik," kata Joice saat berbincang dengan detikcom, Senin (18/9/2017).

Menurut Joice, dunia politik bukanlah jagat kotor, tapi justru akan jadi sarana pengabdian luar biasa jika pelakunya meniatkan dan menjalankan politik dengan berintegritas. Kompetisi dalam politik hal yang biasa saja, sama halnya dengan kompetisi-kompetisi yang lain.

"Di sinilah integritas seorang politisi akan diuji, apakah akan berkompetisi secara baik dengan mengedepankan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan, atau berkompetisi dengan cara manipulaitf, kotor, dan keji," kata dia.

Perempuan kelahiran Semarang, 2 April 1980, yang sebelumnya terkenal sebagai presenter televisi itu pun memutuskan merambah dunia politik. Pada Pemilu 2014, dia maju sebagai calon anggota legislatif dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) namun gagal.

Menurut dia, politik adalah jalan pengabdian tertinggi dalam kehidupan manusia. Ini lantaran dalam politik yang dibahas adalah tata kelola negara beserta kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Politik, kata Joice, tidak mengenal usia. Selama orang tersebut mampu dan punya kapasitas, dia pantas dipilih jadi pemimpin. Joice mencontohkan, Bung Karno ketika memimpin PNI usianya baru 26 tahun, Bung Hatta ketika mendirikan Perhimpunan Indonesia usianya 25 tahun, dan Bung Sjahrir ketika menjadi perdana menteri pertama Indonesia usianya baru 36 tahun.

"Atau contoh yang paling baru adalah Emmanuel Macron, Presiden Perancis, dan Justin Trudeau, Perdana Menteri Kanada, keduanya masih muda," paparnya.

Lindsey Afsari: 'Bertarung' di Dapil Neraka

Lindsey Afsari Puteri (Foto: Istimewa)
Sudah hampir satu dasawarsa Lindsey Afsari Puteri terjun ke politik bergabung dengan Partai Golkar. Dia pernah mengalami masa-masa depresi di politik saat maju sebagai calon anggota legislatif dari daerah pemilihan Jember dan Lumajang.

Dapil Jember dan Lumajang dikenal sebagai daerah 'neraka'. Saat itu dia benar-benar merasakan adanya intrik-intrik politik karena pemilu menggunakan sistem terbuka. "Banyak sekali aspek, bikin lumayan stres. Ini yang dinamakan orang bahwa politik itu seram," kata dia, Senin (18/9/2017).

Saat itu dia sempat merasa putus asa hingga terlintas di benaknya bahwa untuk memperjuangkan rakyat dan membenahi bangsa ini tak harus di parlemen. Namun niat itu urung dan Lindsey tetap di politik.

Menurut Lindsey, politik itu ibarat kendaraan yang bisa digunakan untuk kebaikan. Namun menjadikan politik sebagai kendaraan rupanya tak semudah membalik telapak tangan. Apalagi politik sifatnya dinamis, ada berbagai kepentingan di dalamnya.

Meski mengusung slogan 'Suara Golkar Suara Rakyat, tak semua kader Beringin mengakomodasinya. Bisa saja ada simpatisan di dalam yang membuat ulah dan mencoreng nama partai.

"Tidak semudah itu menjadikan parpol sebagai kendaraan. Tapi idealnya itu yang kami lakukan dengan segala visi-misi yang kita punya," kata Lindsey.

Menurut Lindsey, seorang politikus harus pandai menempatkan diri. Dia harus bisa menempatkan diri ketika berada di tengah masyarakat atau sedang di rapat partai.

"Ketika kita berada di tengah masyarakat yang tidak sejalan dengan keputusan partai, kita harus bisa sama-sama duduk ngobrol. Aspirasi mereka kita serap," kata dia.

Ketika di partai, aspirasi masyarakat itu harus disampaikan. Meski terkadang harus berdebat saat memperjuangkan aspirasi masyarakat, ketika partai sudah memutuskan, hal itu harus dipatuhi bersama.
Halaman 2 dari 4
(erd/jat)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads