DetikNews
Senin 18 September 2017, 16:46 WIB

Atap Tempat Mahasiswa UGM Jatuh Biasa Dipakai Nongkrong

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Atap Tempat Mahasiswa UGM Jatuh Biasa Dipakai Nongkrong Achmad Nasir Asadi (46), ayah Eko Nur Asadi, mahasiswa Sekolah Voksasi Teknik Mesin UGM yang tewas jatuh dari atap kampus. (Edward Febriyatri Kusuma/detikcom)
Jakarta - Orang tua menepis kabar rencana bunuh diri Eko Nur Asadi, mahasiswa UGM yang tewas jatuh dari atap. Eko bersama rekannya sering menghabiskan waktu sore dengan nongkrong di atap tersebut.

"Nggak itu (bunuh diri), anak saya selalu komunikasi kalau ada masalah apa-apa," ujar Achmad Nasir Asadi, ayah korban, kepada detikcom, Senin (18/9/2017).

"Memang ke teman-temannya saya tanya, mereka bilang gedung itu lagi direnovasi dan mereka suka ngabisin waktu sore ke malam di atap," sambungnya.

Nasir mengaku belum datang ke lokasi kejadian. Namun, berdasarkan penuturan dari teman-temannya, tidak ada papan peringatan renovasi di gedung tersebut.

"Ada yang bilang gedung itu sedang renovasi, saya tidak tahu di selasar sisi timur atau selatan. Cerita dari temannya mereka ini jalan memutar dan ada jalan pintas, (di lokasi) tidak ada larangan boleh lewat," kata Nasir.

Sewaktu loncat, Eko jatuh ke lantai 1. Mahasiswi UGM itu lalu menginjak asbes yang rapuh. Eko juga sempat tertahan kayu selama beberapa detik.

"Temannya yang di depan itu sempat lihat langsung, tapi nggak sempat terpegang, anak saya langsung jatuh ke bawah," ucap Nasir.

Nasir mengatakan anaknya sempat dibawa ke RSUP Dr Sardjito. Setelah penanganan beberapa jam, dokter menyatakan nyawa Eko tidak dapat ditolong.

"Sesampai di sana, udah ada tantenya. Dokternya memang bilang ada cedera di bagian kepala," katanya.

Orang Tua Mahasiswa UGM Sempat Tak Percaya Anaknya Jatuh

Nasir (46) mengaku kecewa kepada Universitas Gajah Mada (UGM) atas tewasnya Eko Nur Asadi, mahasiswa Sekolah Voksasi Teknik Mesin. Keluarga mendapat kabar anaknya tewas terjatuh justru dari teman kampusnya.

"Pertama kali (tahu Eko kecelakaan) dari teman kampusnya," uja Nasir saat berbincang dengan detikcom di Perumahan Taman Aster Blok A1/29, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Senin (18/9).

Beberapa jam setelah kejadian, Nasir mendapat panggilan telepon tidak dikenal dari seorang pria. Nasir hanya diberi tahu anaknya kecelakaan.

"Saya matiin teleponnya, saya hubungi anak saya ternyata teleponnya mati. Saya telepon lagi nomor tersebut cari kejelasan. Saya matikan dan coba hubungi rumah sakit dimaksud ternyata anak saya benar di IGD," paparnya.

Nasir mengatakan, atas nama instansi, UGM tidak pernah menyampaikan belasungkawa secara langsung. Sewaktu pemakaman Eko, hanya teman dan dosen wali yang datang dari Yogyakarta.

"Ada satu dosen itu dia datang atas nama pribadi. Dia tidak atas nama UGM. Sampai penyerahan jenazah saya juga tidak tahu bagaimana ceritanya," imbuhnya.

Nasir pun meminta UGM memberi tahu hasil investigasi kecelakaan anaknya. Keluarga juga tidak akan mempermasalahkan secara hukum kejadian ini.

"Ya paling nggak kami keluarga diberi tahu apa penyebabnya, karena kabarnya yang kami terima simpang siur. Paling tidak saya atau istri," ucapnya.
(edo/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed