Sandera WNI di Filipina Sakit Malaria dan Diare

Sandera WNI di Filipina Sakit Malaria dan Diare

- detikNews
Rabu, 18 Mei 2005 17:03 WIB
Jakarta - Jatuh sakit di negeri orang serasa tersiksa fisik dan batin. Apalagi dalam kondisi disandera. Sementara nasib pembebasannya masih terkatung-katung.Dua dari tiga WNI yang disandera di Filipina mengalami sakit. Erikson Hutagaol menderita diare dan Ahmad Resmiadi terjangkit malaria. Ahmad sempat dikabarkan telah dieksekusi penyandera karena uang tebusan tak kunjung tiba.Informasi sakitnya Erikson dan Ahmad diperoleh dari sandera satunya lagi bernama Yamin Labuso. Yamin melakukan kontak melalui HP dengan Beny Butar-butar, salah seorang awak Kapal Bonggaya 91 yang tidak ikut disandera."Dari pembicaraan diketahui kondisi Kapten Kapal Ahmad sakit malaria dan Erikson menderita diare," kata Kepala Bidang Operasional Kontras, Edwin Partogi, di kantornya, Jalan Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (18/5/2005).Menurut dia, informasi itu diperoleh Kontras dari kontak yang dilakukan hari ini dengan salah seorang awak kapal yang selamat. Disebutkan juga kalau penyandera masih tetap minta uang tebusan untuk segera dipenuhi.Pihak KJRI Kota Kinabalu, Malaysia telah menemui perusahaan Kapal Bonggaya untuk memenuhi permintaan para sandera, yakni dikirimkan obat-obatan, makanan, pakaian, dan kamera.Melalui kontak Kontras dengan Kepala Bidang Penerangan KJRI di Davao, Filipina dua hari yang lalu, diperoleh informasi ketiga sandera dalam keadaan selamat.Untuk pengiriman obat-obatan dan kamera pada 13 Mei 2005, telah diterima oleh kurir dari pihak penyandera bernama Omar. Sedangkan pakaian dan makanan sudah disiapkan, tapi pihak penyandera juga meminta tambahan multivitamin.Kontras dengan penghubung KJRI Kota Kinabalau, Tawau, Malaysia kemarin mendapatkan informasi kalau KBRI di Manila Filipina telah memberikan pakaian dan makanan kepada para penyandera.Pada 16 Mei 2005, penyandera telah mengirimkan SMS berbahasa Inggris kepada liaison officer Polri bernama Rudi di Tawau. Pesan ini disampaikan oleh salah seorang negosiator di Kepulauan Tawi-tawi Filipina Selatan bernama Mathaerul.Isinya: Salam saudara Rudi. Ini adalah dua dari penculik, memperingatkan kamu dan mengultimatum dalam waktu 3 hari sekarang, tentang dua keputusan. Tolong catat, pertama, keputusanmu sebelum menelepon dua nomor ini 09283231442 atas nama Abu As'ad, dan tolong berikan kepada dia nomor faks kamu. Tolong berikan dengan cepat dalam 3 hari. Jika tidak, negosiasi akan dihentikan dan tidak ada lagi peringatan dari Abu As'ad. Tolong pikirkan hal ini. Wassalam.Erikson Hutagaol asal Porsea, Ahmad Resmiadi asal Jakarta dan Yamin Labuso asal Ternate merupakan kru kapal berbendera Malaysia "Bonggaya 91". Ketiganya mengalami penculikan di antara Kepulauan Tawi-tawi Filipina dengan Sabah Malaysia.Mereka disandera sejak 30 Maret 2005 oleh kelompok bersenjata yang mengklaim diri sebagai Jammi Al Islamiah Mindanao Selatan Filipina pimpinan Abu Ali dan Abu As'ad, yang disebut-sebut merupakan bagian dari kelompok Jamaah Islamiyah.Penyandera menuntut uang tebusan sebesar 100 ribu peso kepada Indonesia dan memberi batas waktu hingga 11 Mei lalu. Selain itu penyandera juga minta uang tebusan sebesar 3 juta ringgit kepada Malaysia. (sss/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads