Sandera 3 WNI
DPR Kirim Tim Ke Filipina Senin
Rabu, 18 Mei 2005 16:15 WIB
Jakarta - Telah 49 hari lewat. Namun tiga WNI yang disandera di Filipina belum juga berhasil dibebaskan. DPR akan segera mengirimkan tim ke Filipina untuk mencari kejelasan nasib ketiga sandera tersebut."Senin nanti DPR akan mengirimkan delegasi ke Filipina untuk mencari kejelasan apakah mereka masih hidup dan apakah nanti yang bisa kita lakukan," kata Ketua DPR Agung Laksono.Agung menyampaikan hal itu usai memberikan ceramah di hadapan siswa Sespati Polri yang berkunjung ke Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/5/2005). Utusan DPR yang akan berangkat ke Filipina yakni Ade Daud Nasution, Fanni Habibie dan Yudi Chrisnandie. Tiga WNI disandera di Filipina sejak 30 Maret 2005. Mereka yakni Ahmad Resmiadi asal Jakarta, Erikson Hutagaol asal Porsea, dan Yamin Labuso asal Ternate. Ketiganya adalah anak buah kapal (ABK) berbendera Malaysia "Bonggaya 91" yang mengalami penculikan di perairan perbatasan Sabah, Malaysia dan Filipina. Penyandera mengklaim sebagai Jammi Al Islamiah Mindanao Selatan yang disebut-sebut merupakan bagian dari kelompok Jamaah Islamiyah (JI). Mereka menuntut uang tebusan sebesar 100 ribu Peso kepada Indonesia dan memberi batas waktu hingga 11 Mei 2005.Selain itu penyandera juga minta uang tebusan sebesar 3 juta Ringgit kepada Malaysia. Namun karena belum dipenuhi, beredar kabar kalau salah seorang sandera sudah dieksekusi. Namun Deplu memastikan semua sandera masih hidup. Mengingat lambatnya pembebasan 3 WNI itu, DPR akan memerintahkan Komisi I agar melakukan pembahasan khusus penyanderaan itu. Agung lantas mendesak Deplu segera proaktif melakukan langkah-langkah untuk membebaskan Erikson Hutagaol cs. "Deplu harus proaktif mencari tahu bagaimana nasib mereka. Mereka memang harus dilindungi oleh pemerintah. Pemerintah harus segera melakukan pendekatan diplomatik," tandas Agung. Mengenai tuntutan menyerahkan 100 ribu Peso, Agung meminta agar pemerintah tak segera memenuhi tuntutan tersebut. "Kita jangan buru-buru. Apa benar tuntutan itu atau jangan-jangan mereka salah sasaran," ujar Agung.
(iy/)











































