Peneliti Amnesty Internasional yang berada Myanmar, Laura High lewat sambungan Skype saat konferensi pers di kantor Amnesty International Indonesia, Jalan Probolinggo, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (15/9/2017), menyampaikan temuannya. Dia mengatakan, aksi pembakaran dan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok militer dan polisi Myanmar yang dibantu oleh penduduk Rakhine.
Laura juga mengatakan saksi mata yang ditemui di lapangan menyebutkan petugas militer melakukan patroli dan memasang ranjau di beberapa tempat.
"Salah seorang narasumber kami mereka melihat mereka membawa sesuatu seperti mangga yang berwarna hitam dan ketika kami cocokkan sesuai dengan karakter ranjau," ujar Laura.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analisis yang dilakukan pihaknya terhadap data deteksi kebakaran, citra satelit, foto dan video dari lapangan, serta wawancara di lapangan menunjukkan bagimana pembakaran dilakukan dengan sistematis dan disengaja, serta menargetkan desa-desa warga Rohingya.
"Sudah waktunya masyarakat internasional terbangun dengan mimpi buruk yang dialami Rohingya. Bukti awal menunjukkan bahwa serangan ini dihitung dan dikoordinasikan secara terencana di beberapa kota," ucapnya.
(fiq/rvk)











































