detikNews
Jumat 15 September 2017, 10:49 WIB

Miris! Simbol Kota Bekasi Tak Terawat dan Terhalang Videotron

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Miris! Simbol Kota Bekasi Tak Terawat dan Terhalang Videotron Tugu Bambu Runcing yang menjadi simbol Kota Bekasi tak terawat. (edo/detikcom)
Bekasi - Kondisi Tugu Bambu Runcing sebagai simbol Kota Bekasi kini tidak lagi terawat. Padahal bambu runcing memiliki arti sebagai kota patriot atau perjuangan.

Tugu itu berada di simpang lampu lalu lintas Jalan Ahmad Yani, Bekasi. Kelima pilar tugu bambu runcing berdiri di pinggir perempatan lampu merah. Tugu itu dibangun delapan tahun lalu oleh Pemkot Bekasi. Tujuannya mengingatkan masyarakat tentang sejarah Bekasi sebagai Kota Patriot.

Badan tugu yang penuh cat Pilox meninggalkan kesan kumuh. Cat aslinya yang berwarna merah bata pun sudah mulai pudar akibat terpapar sinar matahari dan terpaan hujan pada musimnya. Bahkan tugu sudah miring tertutupi videotron berukuran 2x3 meter.

Waktu demi waktu berlalu, tugu itu menjadi saksi pembangunan Kota Bekasi. Namun tak ada satu pun yang memikirkan kondisi tugu. Pembangunan infrastruktur dan pusat perbelanjaan sedikit demi sedikit mulai menggeser pandangan orang dari tugu. Perhatian mereka dialihkan ke papan reklame dan videotron.

"Warga pun nggak akan sadar kalau di jalan ini ada tugu, orang tertutup badan videotron," ujar pengguna Jalan Bekasi, Asep, kepada detikcom, Jumat (15/9/2017).
Miris! Simbol Kota Bekasi Tak Terawat dan Terhalangi Videotron

Asep pun menyayangkan sikap Pemkot Bekasi yang abai terhadap simbol daerahnya. Terlebih keberadaan tugu yang tertutupi videotron dan papan reklame.

"Harusnya nggak seperti ini, kalau begini bagaimana masyarakatnya mau peduli sama Bekasi," papar Asep.

Senada dengan Asep, Sukardi (38), tukang ojek di kawasan tersebut, menuturkan sebaiknya videotron itu bisa dipinggirkan ke tempat lain, sehingga keberadaannya tidak mengganggu pandangan ke tugu.

"Biar orang jadi ingat sama Bekasi. Paling nggak tahu kalau ini kota perjuangan, masak pemerintahnya kalah dengan kepentingan pengusaha," ungkap Sukardi.
(edo/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com