DetikNews
Kamis 14 September 2017, 16:26 WIB

Panglima TNI: Ke Depan Negara di Khatulistiwa akan Diperebutkan

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Panglima TNI: Ke Depan Negara di Khatulistiwa akan Diperebutkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat memberi orasi kebangsaan di Universitas Serang Raya (Unsera), Kota Serang, Banten (Foto: Bahtiar Rifa'i/detikcom)
Jakarta - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memprediksi pada puluhan tahun ke depan konflik di dunia akan berubah. Konflik berdasarkan kepentingan energi akan berubah ke kepentingan ekonomi, pangan, dan air.

Menurut Gatot, konflik yang terjadi di negara-negara di dunia didasarkan pada konflik energi. Konflik tersebut terjadi di beberapa negara seperti di Irak, Yaman, Nigeria, dan Kuwait.

"Jadi, selama ini konflik alasan apapun juga bohong, 70 persen konflik berlatar belakang energi," ujar Gatot di hadapan mahasiswa dan dosen Universitas Serang Raya (Unsera), Kota Serang, Banten, Kamis (14/9/2017).


Serangan Rusia ke Ukraina menurutnya juga adalah karena alasan energi. Pemilihan Menteri Luar Negeri Amerika Rex Tillerson oleh Presiden Trump menurutnya juga tak terlepas dari energi. Apalagi, Rex adalah mantan bos perusahaan energi Exxon Mobil Corp. Konflik yang saat ini terjadi di Rohingya juga diduga berdasarkan kepentingan energi.

"Mungkin kita perlu simak juga di Rohingya, bisa terjadi karena minyak. Karena Myanmar terkenal dengan The Golden Land," ujar mantan KSAD ini.

Namun, energi yang berasal dari fosil tersebut akan habis. Pada saat itu, konflik yang akan terjadi di masa depan akan beralih ke kepentingan pangan dan air. Diprediksi pada tahun 2043, energi minyak akan habis.


Sementara jumlah penduduk dunia diprediksi akan berjumlah 12,3 miliar orang. Saat itu, negara-negara di kawasan ekuator akan menjadi rebutan.

Nantinya, konflik Arab Spring (konflik di kawasan Arab) akan bergeser ke negara di kawasan ekuator seperti negara di Asean, Afrika Tengah, dan Amerika Latin. Termasuk Indonesia yang ada di garis khatulistiwa.


"Maka kompetisinya yang tadinya perang karena berebut energi, mulai sekarang menjadi ekonomi atau energi, pangan, air. Itu teori yang saya ciptakan," katanya.

"Indonesia yang besar sangat menggiurkan, pasti akan diperebutkan. Inilah yang perlu saya ingatkan dalam konteks terkini," tegasnya.
(bri/jbr)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed