DetikNews
Kamis 14 September 2017, 15:52 WIB

Pidato di Unsera Banten, Panglima TNI Bicara soal Kompetisi Global

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Pidato di Unsera Banten, Panglima TNI Bicara soal Kompetisi Global Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat memberi orasi kebangsaan di Universitas Serang Raya (Unsera), Kota Serang, Banten (Bahtiar Rifa'i/detikcom)
Serang - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan orasi kebangsaan di Universitas Serang Raya (Unsera), Kota Serang. Dalam kesempatan tersebut, Gatot berbicara mengenai kompetisi global dan perkembangan populasi dunia menghadapi krisis.

Menurutnya, kemajemukan yang ada di bangsa Indonesia adalah keunggulan yang perlu dibanggakan. Sebab, tidak ada negara di dunia yang memiliki kebinekaan dan kondisi seperti Indonesia.

"Kita harus bangga, dan karena kompetisi (global) kita harus waspada," ujar Gatot di hadapan mahasiswa dan dosen Unsera, Kota Serang, Banten, Kamis (14/9/2017).

Kemajemukan itu ialah hidup bersama 714 suku bangsa dan 1.100 bahasa yang tersebar di 34 provinsi. Selain itu, Indonesia memiliki bentang alam yang terdiri dari 17 ribu pulau dengan luas laut mencapai 5,8 juta meter persegi.

Di luar itu, Gatot menyampaikan ada sebuah teori populasi manusia dan persoalan ketersediaan pangan di dunia. Penduduk manusia yang pada 2011 sudah mencapai 7 miliar lebih dihadapkan pada ketersediaan pangan yang kini tersedia di seluruh dunia.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat acara di Universitas Serang Raya (Unsera), Kota Serang, BantenPanglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat acara di Universitas Serang Raya (Unsera), Kota Serang, Banten (Bahtiar Rifa'i/detikcom)

Persoalan kemiskinan, gizi buruk, dan kesehatan menjadikan hampir 41 ribu anak setiap hari meninggal dunia. Bahkan per tahun jumlahnya bisa mencapai 15 juta jiwa.

"Ini menunjukkan bahwa dunia overload, anak setiap hari 41 ribu meninggal karena kemiskinan dan gizi buruk," katanya.

Di samping pangan, dengan pertumbuhan jumlah manusia, banyak juga yang membutuhkan energi. Energi fosil yang ada saat ini akan habis pada 2050. Dan, pada 2035, kebutuhannya akan meningkat sampai 41 persen. Peningkatan kebutuhan tersebut bahkan bisa menghabiskan energi minyak hanya sampai 2043.

Belum lagi ketika berbicara teknologi. Gatot mengatakan teknologi bisa menggantikan manusia. Penggunaan mesin akan mengurangi usia produktif manusia dan melahirkan krisis di kemudian hari.

"Kalau kita tidak waspada akan krisis ekonomi, diikuti depresi ekonomi, dan akan diikuti krisis meningkatnya konflik kejahatan. Dan inilah yang terjadi di kompetisi global yang harus dicermati betul hari ini," katanya.
(bri/jbr)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed