"Saya dulu juga anak orang nggak punya. Orang tua saya entah cari duitnya bagaimana, saya selalu disekolahkan," kata Jokowi di Lapangan Rajawali, Cimahi, Jawa Barat, Senin (11/9/2017).
Di depannya ada ribuan orang penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan para siswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP). Para penerima jaminan sosial ini juga didorongnya agar menggapai cita-cita setinggi langit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi mengingatkan agar penerima PKH memanfaatkan fasilitas ini dengan bijak. Bila ada suami yang meminta duit bantuan untuk beli rokok, istri harus menjelaskan bahwa dana ini bukan untuk beli rokok, namun untuk kepentingan kesejahteraan anak-anak.
"Gunakan sebaik-baiknya. Itu adalah modal Ibu-ibu semua," kata Jokowi.
Anak-anak berseragam sekolah di sini adalah penerima KIP. Mereka yang SD menerima Rp 450 ribu setahun, SMP menerima Rp 750 ribu setahun, SMA/SMK mendapat Rp 1 juta setahun. Jokowi bertanya kepada siswa SMA apakah angka nominal Rp 1 juta per tahun itu cukup atau tidak. Ada yang menjawab cukup dan ada pula suara yang menjawab tidak cukup.
"Yang bilang tidak cukup, maju," kata Jokowi disambut tawa.
"Kalau anggaran pemerintah memiliki kemampuan, akan ditambah. Harapan pemerintah seperti itu," ujar Jokowi.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan di hadapan Jokowi, ada 1.191 siswa penerima KIP dan 800 orang penerima PKH. Sebenarnya di Kota Cimahi ada 20.787 siswa, terdiri atas anak yatim dan anak panti asuhan.
Untuk anak SD ada 566 siswa, anak SMP ada 252 siswa, SMA ada 112 siswa, dan SMK ada 25 siswa. Penerima dari program kesetaraan Paket A ada 13, Paket B ada 94, dan Paket C ada 119 siswa. (dnu/rvk)











































