DetikNews
Minggu 10 September 2017, 07:08 WIB

Tapal Batas

Optimisme Ekspor Beras ke Malaysia dan Realitas Entikong

Danu Damarjati - detikNews
Optimisme Ekspor Beras ke Malaysia dan Realitas Entikong Foto: Sawah di Semanget, Entikong (Rachman Haryanto/detikcom)
Entikong - Pemerintah pusat ingin menjadikan Entikong sebagai kawasan terdepan Indonesia yang bisa mengekspor beras ke Malaysia. Target sudah terucap. Inilah realitas di lapangan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman bahkan telah lepas sepatu dan gulung lengan kemeja, turun ke lumpur menanam padi di sawah Semanget, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, pada 22 Oktober tahun lalu. Di awal 2017, Amran memerintahkan membangun 50 ribu hektare lahan tanaman pangan di Entikong. Kecamatan ini punya luas 506,89 km persegi

"Kami minta bangun 50.000 hektare di Entikong untuk persiapan ekspor ke Malaysia," kata Amran di Jakarta pada 5 Januari 2017.



Selain beras, jagung juga dijagokan menjadi komoditas ekspor ke Negeri Jiran. Kerjasama dengan menteri pertanian Malaysia juga sudah dibicarakan. Target secara umum untuk kawasan Kalimantan Barat juga dicanangkan, yakni ekspor 15 ribu ton beras premium ke Malaysia untuk tahap awal.

Saat detikcom mengunjungi Entikong, Rabu (19/7/2017), hamparan padi di sawah Semanget dekat Jalan Lintas Malindo beranjak menguning. Ini adalah sawah yang disambangi Amran pada tahun lalu. Nampak sejumlah pekerja sedang membangun irigasi. Barangkali ini padi-padi yang nantinya juga bakal diekspor ke Malaysia.

Optimisme Ekspor Beras ke Malaysia dan Realitas EntikongPekerja membuat irigasi sawah di Semanget, Entikong (Rachman Haryanto/detikcom)
Bupati Sanggau, Paolus Hadi, menjelaskan saat ini mayoritas masyarakat perbatasan di wilayahnya bermata pencaharian sebagai peladang. Lada atau sahang adalah komoditas favorit penduduk. Lada juga sering diekspor ke Malaysia.

Ladang memang bukan sawah. Program cetak sawah nasional bukan berarti mudah saja terlaksana. Hal ini diceritakan oleh Bupati Sanggau Paolus Hadi. Dia mengaku sudah berbicara dengan Amran soal kendala pelaksanaan cetak sawah nasional itu.

"Kendalanya itu memang lahan-lahan di perbatasan sebagian berada dalam kawasan hutan," kata Paolus di rumah dinasnya.

Untuk memenuhi 50 ribu hektare (500 km persegi) di satu kecamatan Entikong yang luasnya 506,89 km persegi, agaknya memang sulit. Dia memahami bahwa 50 ribu hektare ini sebagai target luas akumulasi seluruh lahan pertanian Kabupaten Sanggau. Untuk lokasi prioritas perbatasan yakni Kecamatan Entikong dan Kecamatan Sekayam, dia memperkirakan luas lahan pertanian bisa mencapai 7 ribu sampai 10 ribu hektare saja.

Untuk mencetak sawah atau lahan pertanian yang baru, kendalanya adalah kebanyakan lahan di perbatasan berada dalam kawasan hutan. Artinya, kawasan hutan itu tidak boleh dialih-fungsikan menjadi lahan pertanian. Yang boleh diubah menjadi lahan pertanian adalah lahan berstatus Areal Penggunaan Lain (APL).

"Sementara ini kita tidak bisa intervensi dengan program cetak sawah nasional. Ya karena masih status kawasan hutan itu. Jadi kita harus mencetak di APL yang bukan dalam kawasan hutan," tutur Paolus.

Foto: Peta Kawasan Hutan, warna putih berstatus APL (Dok Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sanggau)


Meski begitu, bukan berarti lahan berstatus kawasan hutan itu berbentuk hutan rimba belantara. Yang seperti itu sudah tidak ada di Sanggau. Bentuk lahan berstatus kawasan hutan kebanyakan bentuknya juga perkebunan warga atau sekadar bukit yang ditumbuhi ilalang.

Soal kondisi pertanian di Entikong, Paolus menjelaskan gerakan menanam padi di wilayahnya terbilang luar biasa. "Sekarang status kita sudah swasembada untuk Kabupaten. Bahkan kemarin serapan gabah yang paling tinggi di Kalimantan Barat adalah di Kabupaten Sanggau," ujarnya.

Kata Paolus, gabah di wilayah ini bahkan ada yang sudah dibeli Depot Logistik (Dolog) untuk disiapkan sebagai cadangan. Entikong juga akan merayakan Hari Pangan Sedunia 16 Oktober, rencananya Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga akan hadir. Realisasi ekspor akan lebih dipertegas. Lahan yang bakal disiapkan untuk perayaan Hari Pangan Sedunia bersama Jokowi pada 16 Oktober nanti dikatakannya punya hasil panen yang baik, yakni 5 sampai 6 ton per hektare.

Optimisme Ekspor Beras ke Malaysia dan Realitas EntikongSawah di Semanget, Entikong (Rachman Haryanto/detikcom)


"Cuma kalau kita bicara ekspor ke Malaysia, tidak bisa hanya ditopang oleh dua kecamatan perbatasan ini saja. Tentu harapan kita Kalimantan Barat ikut menopang supaya berkelanjutan," kata Paolus.

Tim detikcom juga sempat berjalan-jalan ke Pasar Entikong. Di sini ada beras impor dari Malaysia dengan merek Tulip. Salah seorang pedagang bernama Dauglas (40) menempatkannya di antara karung-karung beras asal Kapuas Hulu. Beras lokal itu dia harganya Rp 12 ribu per kilogram, sedangkan beras Tulip dari Malaysia harganya Rp 8.500 per kilogram.

"Saya heran, bagaimana bisa beras dari Kapuas Hulu malah lebih mahal," kata Dauglas.

Optimisme Ekspor Beras ke Malaysia dan Realitas EntikongBeras Tulip Malaysia di Pasar Entikong Danu Damarjati/detikcom)


Di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Entikong, beras Malaysia juga ikut berjejal masuk di antara barang-barang lainnya. Beras dibawa masuk oleh penduduk perbatasan lewat pemanfaatan jatah belanja Kartu Identitas Lintas Batas (KILB) senilai 600 Ringgit Malaysia per bulan.

Hermansyah (21), salah seorang warga yang ditemui detikcom pada 15 Juli di PLBN Entikong, membawa masuk 10 karung beras dari Malaysia ke Indonesia. Kata dia, ini adalah jumlah maksimal yang diperkenankan pihak Bea dan Cukai di sini. Dia kulakan beras dari Malaysia karena harganya lebih murah.

"Coba kalau mahal (barang-barang yang dijual di Malaysia), mustahil kita belanja barang Malaysia, pasti kita utamakan produk kita sendiri lah," kata Hermansyah sembari menunggu antrean pemeriksaan barang.

Selain Desa Semanget, ada Desa Nekan di Entikong yang punya luasan lahan pertanian potensial. Malahan, Desa Nekan punya akumulasi luas sawah lebih besar ketimbang Semanget, disusul di Desa Entikong, Palapasang, dan Suruh Tembawang. Penyuluh Pertanian Lapangan Desan Nekan dari Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Entikong, Agustinus Agus (33), menjelaskan soal hal ini.

"Dusun Nekan termasuk lumbungnya pangan di daerah perbatasan ini," kata Agus saat ditemui detikcom, Rabu (19/7/2017).

Optimisme Ekspor Beras ke Malaysia dan Realitas EntikongPenyuluh Pertanian Lapangan Desan Nekan, Agustinus Agus (Danu Damajati/detikcom)


Di Nekan ada 228 hektare sawah, 90 persennya adalah sawah padi lahan kering alias padi gogo. Sawah yang punya irigasi sepenuhnya barulah belasan hektare di sini. Pola tanamnya sudah dua kali tanam dalam satu tahun. Padi yang ditanam berasal dari varietas unggul, yakni Ciherang. Ada juga jenis Inbrida Padi Rawa (Inpara) 2, Inpara 3, dan Inpara 7. Kini juga sedang dikembangkan jenis padi lahan kering Situ Bagendit.

"Hasilnya, potensi panen dalam 1 hektare adalah 6 sampai 7 ton," kata Agus. Jadi dalam sekali panen di Desa ini, maka sekitar 1.368 ton padi bisa dihasilkan, meski saat musim kemarau jumlahnya lebih sedikit dari itu.

Petani di sini adalah masyarakat asli Dayak, selama ini mereka biasa bertani dengan cara sistem ladang berpindah untuk mengejar kesuburan tanah. Penyuluh sedang mencoba mengarahkan masyarakat untuk tidak lagi melakukan sistem ladang berpindah selama tiga tahun terakhir ini.

Namun belum semua bisa menerapkan penanaman secara menetap. Kemudian terobosan dilakukan. Menggunakan padi Situ Bagendit, mereka diajari menanam dua kali dalam setahun. Bulan April ditanam, bulan Agustus dipanen. Bulan Oktober ditanam lagi, bulan Februari dipanen. "Jadi walaupun padi ladang, tapi bisa dibudidayakan dua kali tanam seperti sawah," kata Agus yang juga anggota masyarakat Dayak ini.

Keluhan petani di sini, kata Agus, adalah soal ketersediaan pupuk."Pupuk tidak ada saat petani memerulkan. Pupuk hanya ada di bulan Juni, Juli, dan Agustus. Saat Oktober sudah habis. Ini mengakibatkan periode tanam tidak sama dengan periode suplai pupuk," kata Agus.

Keluhan kedua yakni problem hama walang sangit alias empangau yang meningkat di musim kemarau. Hama ini juga yang menyebabkan panen di musim kemarau bisa berkurang jumlahnya.

Bagaimana dengan potensi ekspor beras ke Malaysia? Agus menjawab, saat ini ekspor sudah dilakukan namun dalam skala yang masih kecil, tergantung pesanan dari Malaysia. Misalnya petani di sini mengekspor 50 kg atau 100 kg beras ke Malaysia.

"Tidak dalam partai besar berton-ton," kata Agus.

Optimisme Ekspor Beras ke Malaysia dan Realitas EntikongFoto: Sawah di Semanget, Entikong (Rachman Haryanto/detikcom)


Di sini, penanaman jagung terbilang kurang, kecuali hanya jagung manis untuk konsumsi sendiri. Bila pemerintah memang ingin menggalakkan penanaman jagung, masyarakat petani di sini tak akan keberataan asalkan syaratnya terpenuhi.

"Perlu ada penampungnya. Bukan penampung abal-abal. Maunya masyarakat, mau hasil panennya banyak atau sedikit tapi tetap harus ada penampung atau pengepul. Ini membuat mereka tidak ragu untuk menanam," kata Agus.

Untuk perluasan cetak sawah, langkah yang ditempuh bakal membentur peta kawasan hutan. Selama ini pembukaan lahan baru hanya sebatas lahan pertanian yang dulu ditinggalkan selama lima tahun dalam sistem ladang berpindah, bukan sepenuhnya lahan baru.

"Potensi lahan memang luas, namun terbentur kawasan hutan," kata Agus.

Optimisme Ekspor Beras ke Malaysia dan Realitas EntikongIlustrasi: Seorang petani di Sintang, Kalimantan Barat (Danu Damajati/detikcom)

(dnu/bag)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed