Bayi Debora Meninggal, Kerabat Orang Tua Sangkal RS Mitra Keluarga

Ahmad Toriq - detikNews
Sabtu, 09 Sep 2017 13:32 WIB
Foto: dok. pribadi
Jakarta - Tiara Debora Simanjorang (4 bulan) meninggal. Pihak RS Mitra Keluarga menyebut orang tua bayi keberatan soal biaya perawatan. Namun keterangan pihak rumah sakit ditepis oleh kerabat orang tua bayi Debora.

Birgaldo Sinaga, kenalan Henny, ibunda bayi Debora, menegaskan pihak RS Mitra Keluarga menolak memasukkan Debora ke ruang perawatan intensif untuk anak atau Pediatric Intensive Care Unit (PICU) karena orang tuanya tak punya uang muka. Pihak RS meminta DP Rp 11 juta. Orang tua Debora hanya punya Rp 5 juta.

"Bukti-bukti dokumen ada. Katanya kita nggak ada kasih DP, itu tidak benar. Ada bukti penarikan duit dari ATM Rp 5 juta untuk bayar DP, ada 10 menit duit itu dipegang bagian administrasi. Administrasi telepon dulu atasannya, mereka minta, ternyata tidak diterima. Mintanya Rp 11 juta DP-nya," kata Birgaldo saat dihubungi detikcom, Sabtu (9/9/2017).


Menurut Birgaldo, seharusnya DP Rp 5 juta yang dibawa orang tua Debora diterima dulu, setidaknya untuk merawat bayi mungil itu hingga siang atau sore hari. Orang tua Debora diyakininya akan mengusahakan sisa uang yang harus dibayarkan.

"Bayi itu baru 4 bulan. Seharusnya bisa diselamatkan di inkubator, tidak benar itu. Pasien ini bukan tidak berusaha membayar administrasinya, cuma memang uang belum cukup. Ini kondisi yang tidak benar," ujar Birgaldo.

RS Mitra Keluarga Kalideres menepis kabar pihaknya tak mau merawat Debora karena kurangnya uang muka.

"Ibu pasien mengurus di bagian administrasi, dijelaskan oleh petugas tentang biaya rawat inap ruang khusus ICU, tetapi ibu pasien menyatakan keberatan mengingat kondisi keuangan," demikian penggalan rilis media RS Mitra Keluarga soal bayi Debora yang dikutip detikcom dari situs mitrakeluarga.com, Sabtu (9/9).


Versi RS Mitra Keluarga, Henny (ibunda bayi Debora), lalu ke IGD. Dokter di IGD kemudian menanyakan kepesertaan BPJS kepada Henny, yang menyatakan punya BPJS. Lalu dokter menawarkan kepada Henny untuk dibantu dirujuk ke RS yang bekerja sama dengan BPJS. Henny setuju.

"Dokter membuat surat rujukan dan kemudian pihak RS berusaha menghubungi beberapa RS yang merupakan mitra BPJS. Dalam proses pencarian RS tersebut, baik keluarga pasien maupun pihak RS kesulitan mendapatkan tempat. Akhirnya jam 09.15 keluarga mendapatkan tempat di salah satu RS yang bekerja sama dengan BPJS. Dokter RS tersebut menelepon dokter kami menanyakan kondisi pasien. Sementara berkomunikasi antardokter, perawat yang menjaga dan me-monitoring pasien memberitahukan kepada dokter bahwa kondisi pasien tiba-tiba memburuk," bunyi pernyataan lanjutan RS Mitra Keluarga.

"Dokter segera melakukan pertolongan kepada pasien. Setelah melakukan resusitasi jantung paru selama 20 menit, segala upaya yang dilakukan tidak dapat menyelamatkan nyawa pasien," lanjutan pernyataan tersebut. (tor/rjo)