SBY: Negara Harus Menjamin Hak Rakyat untuk Bersuara

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Sabtu, 09 Sep 2017 09:50 WIB
Ketum Demokrat SBY. Foto: Gibran Maulana Ibrahim/detikcom
Jakarta - Dalam pidato politik di hari ulang tahun Partai Demokrat ke-16, sang ketum, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajak kadernya melihat kembali sejarah. SBY banyak bicara soal sejarah dan kondisi bangsa saat ini.

"Kalau kita melakukan kilas balik secara partai kita, kita bisa mengatakan Demokrat adalah anak kandung reformasi. Karenanya, sejak kelahirannya, Partai Demokrat menginginkan di negeri ini demokrasi mekar dan tumbuh dengan tertib dan damai," kata SBY di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (9/8/2017).

SBY menyebut partainya ingin pembangunan di era pemerintah sekarang dapat berlangsung adil dan merata. SBY ingin masyarakat menjadi sejahtera.

"Kita ingin rakyat kita makmur bersama, bukan makmur sendiri-sendiri. Indonesia haruslah untuk semua, jangan yang menikmati mereka yang kuat, yang berkuasa dan yang beruntung semata," tutur SBY.


Presiden RI ke-6 ini juga berbicara mengenai NKRI, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Pancasila. Demokrat, ditegaskan SBY, sangat mendukung empat hal tersebut.


Usai bicara poin-poin tersebut, SBY lantas bicara sejarah. SBY bicara krisis Indonesia di masa lampau.

"Tahun depan, tahun 2018, bulan Mei 2018 adalah genap 20 tahun reformasi kita. Sebagai salah seorang pelaku sejarah, saya mengajak saudara semua untuk sama-sama mengingat kembali mengapa negara yang kita cintai ini dulu mengalami krisis besar yang hampir saja menjadikan Indonesia negara gagal, fail state," tuturnya.

SBY lantas menyebut beberapa hal yang dulu terjadi lalu membandingkannya dengan kondisi bangsa saat ini. Dia pun menyinggung soal ekonomi.

"Di masa silam kita harus memilih. Pilih ekonomi atau pilih demokrasi. Sekarang negara mesti bisa menghadirkan kedua-duanya. Ekonomi kita makin kuat, merata dan tak merusak lingkungan hidup, namun tetap menjamin tegaknya nilai nilai demokrasi," ucap SBY.

Dia pun berbicara mengenai stabilitas politik dan keamanan serta kebebasan menyuarakan pendapat di masa lalu. SBY ingin pemerintah sekarang tidak seperti saat itu.

"Di masa silam seolah kita harus memilih stabilitas politik dan keamanan atau kebebasan. Sekarang negara mesti bisa menjamin tegaknya stabilitas politik dan keamanan tanpa harus menghilangkan hak rakyat untuk dapat menyampaikan pandangan dan suaranya," tegasnya.


SBY bicara panjang lebar dalam pidatonya soal masa lalu bangsa. Sektor pembangunan, soal korupsi, militer yang partisipan ke salah satu parpol, pembungkaman pers pun dibahas SBY. Dari semua sejarah itu, yang disebutnya sebagai penyakit bangsa, SBY menitip pesan kepada pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) saat ini.

"Tugas besar kita ke depan ini semua penyakit itu harus kita singkirkan dan jangan sampai masyarakat dan bangsa kita dihinggapi kembali. Memang tidak selalu mudah membuat Indonesia menjadi negara yang benar-benar aman dan damai, adil, demokratis, dan sejahtera, termasuk terbebasnya dari serangan penyakit-penyakit tadi," urai SBY.

"Namun, semua pemimpin, pemerintah dan setiap generasi bertanggung jawab dan memiliki kewajiban untuk membikin Indonesia makin baik. Karenanya, melalui mimbar ini, saya mengajak seluruh kader dan simpatisan Partai Demokrat untuk membantu negara dan pemerintah menjalankan tugas dan kewajibannya," imbuhnya mengakhiri. (gbr/elz)