Kisruh PKB
Mahfud Tidak Takut Direcall
Selasa, 17 Mei 2005 16:59 WIB
Jakarta - Mahfud MD kini berada di tengah-tengah antara PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) kubu Muhaimin-Gus Dur dan kubu Alwi-Saifullah Yusuf. Dia terancam direcall oleh kedua kubu ini. Jika memang itu terjadi, Mahfud siap saja, tidak takut. "Tidak apa-apa, silakan saja. Saya tidak punya kekhawatiran," kata Mahfud kepada wartawan di gedung DPR, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (17/5/2005). Saat itu, Mahfud ditanya apakah dirinya siap direcall oleh kedua kubu itu. Konflik di tubuh PKB kini telah meluas ke DPR. Sebagaimana kepengurusan DPP PKB, Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR juga memiliki kepemimpinan kembar. Ketua FKB kubu Muhaimin adalah Ali Masykur Musa, sedangkan Ketua FKB kubu Alwi adalah AS Hikam. Kubu Alwi telah mengancam akan melakukan perombakan keanggotaan FKB terkait konflik di tubuh DPP PKB. Jelas, ancaman ini juga bisa saja mengenai Mahfud MD, yang kini memang berstatus sebagai anggota DPR dari FKB. Nah, untuk melawan manuver kubu Alwi, para anggota FKB yang dimotori Ali Masykur meneken pernyataan untuk loyal kepada Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro DPP PKB dan Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum DPP PKB. Pernyataan loyalitas itu dibubuhi dengan materai, agar lebih kuat. Ada 44 anggota FKB yang telah meneken pernyataan ini. Dan sisanya, berjumlah 8 orang, menolak menandatangani, termasuk Mahfud MD. Kubu Muhaimin sendiri juga mengancam siapa saja anggota FKB yang tidak meneken pernyataan loyalitas itu akan direcall. Jadilah, Mahfud MD terkena ancaman recall dari kedua kubu itu. Mahfud memiliki alasan tersendiri mengapa tidak ikut menandatangani pernyataan loyalitas yang dimotori Ali Masykur Musa itu. "Tanda tangan orang per orang hanya akan menimbulkan perpecahan," kata Mahfud mantap. Dengan begitu, apakah Mahfud berarti menoleh ke kubu Alwi? Tidak juga. Mahfud MD tetap menegaskan dirinya menerima hasil Muktamar II PKB di Semarang berikut produk-produknya. "Tanpa tanda tangan pun, saya menerima hasil muktamar Semarang," jelasnya. Ditanya mengenai surat Alwi Shihab kepada pimpinan DPR yang memberitahukan bahwa AS Hikam telah ditunjuk sebagai ketua FKB, Mahfud menilai langkah Alwi itu tidak efektif. "Itu tidak efektif. Karena tidak mendapat dukungan dan persetujuan pimpinan DPR dan anggota fraksi," jelasnya. Tapi, Mahfud masih mencoba objektif ketika ditanya tentang rencana pertemuan Munas Alim Ulama di Surabaya yang akan digelar kubu Alwi pada 28 Mei 2005. "Karena itu merupakan musyawarah para kiai, tidak ada jeleknya untuk didatangi," kata Mahfud. Tapi, Mahfud mengaku belum mengagendakan untuk datang ke acara itu.
(asy/)











































