DetikNews
Selasa 05 September 2017, 05:16 WIB

Pendidikan Karakter Cara Armenia: Les Gratis Berteknologi Tinggi

Danu Damarjati - detikNews
Pendidikan Karakter Cara Armenia: Les Gratis Berteknologi Tinggi Fadli Zon memberikan wayang golek sebagai suvenir kepada Direktur TUMO Marie Lou Papazian (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - Karakter kreatif ditanamkan sejak dini. Pendidikan yang berkualitas jadi syarat mutlak. Ada contoh menarik dari sebuah negara yang luasnya tak lebih dari Provinsi Jawa Tengah, yakni Armenia.

Orang Armenia salah satunya dikenal karena orang-diasporanya yang menyebar ke seluruh dunia, dan banyak juga yang berkualitas di berbagai bidang. Beberapa dari mereka, meski tidak lahir di Armenia dan hanya karena kebetulan berdarah Armenia, merasa terpanggil membangun tanah leluhurnya lewat pendidikan.

Pendidikan yang dimaksud adalah semacam les-lesan, tambahan pembelajaran usai jam belajar sekolah. Namun ini bukan les biasa. Pertama, ini gratis total. Kedua, materi pembelajarannya tak dikaitkan dengan kepentingan pelajaran sekolah. Ketiga, siswa bisa merancang rencana pembelajaran mereka sendiri.

Nama lembaga ini adalah TUMO Center for Creative Technologies. Didirikan oleh orang keturunan Armenia yang bernama Sam Simonian bersama istrinya, Sylva.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan rombongan mengunjungi kantor pusat TUMO di Tumanyan Park, Yerevan, Armenia, Kamis (31/8/2017). Mereka ditemui oleh Direktur TUMO, namanya adalah Marie Lou Papazian, perempuan Lebanon keturunan Armenia yang besar di New York.

Delegasi DPR yang dipimpin Fadli Zon mengunjungi TUMO di YerevanDelegasi DPR yang dipimpin Fadli Zon mengunjungi TUMO di Yerevan (Foto: Danu Damarjati/detikcom)

Bangunannya simpel, fungsional, minim ornamen nirfaedah. Sofa di mana-mana, dan komputer berlambang buah apel mudah ditemukan. Berseliweran anak-anak usia muda yang ceria di manapun mata memandang. Di luar, ada taman dengan anak-anak yang bermain air. Sekilas ini seperti tempat bermain, bukan belajar. Tapi bukan, ini adalah tempat belajar.

"Ini adalah sekolah tambahan, gratis, untuk remaja 12 sampai 18 tahun," kata Marie saat memberi penjelasan kepada para wakil rakyat Indonesia.

TUMO memberi pelajaran tambahan terkait kemampuan yang paling dibutuhkan anak-anak zaman sekarang: penguasaan teknologi.

Ada empat fokus area pembelajaran, yakni animasi, pengembangan gim (permainan virtual), pengembangan situs, dan media digital. Ada 12 keterampilan yang bisa mereka dapatkan pula yakni musik, menulis, menggambar, grafis dua dimensi, membuat model tiga dimensi, pemrograman, robotik, fotografi, literasi daring, dan grafis bergerak. Banyak sekali. Bagaimana cara belajarnya?

"Kami menerapkan rencana pembelajaran personal, murid-murid membuat rencana pembelajaran sesuai yang mereka suka. Mereka datang dan duduk di manapun mereka mau, mereka akan memulai dan membuat pilihannya sendiri," kata Marie.

Semua peralatan memadai ada di sini. Pokoknya murid tinggal berangkat saja dan belajar dua jam sore hari. Fasilitas komputer, studio musik, alat rekaman, hingga bioskop pemutaran karya, semuanya sudah disediakan. Anak-anak penyandang disabilitas tidak dipisah dalam belajar, kecuali yang tunanetra.

"Tak ada kompetisi dan ranking di sini," kata Marie. Dengan demikian, anak bisa lebih berkembang tanpa harus merasa tertekan dengan pemeringkatan di sekolah yang berdiri enam tahun lalu ini.

Tenaga pengajarnya adalah orang-orang keturunan Armenia yang rela datang dari berbagai penjuru dunia. Beberapa dari mereka juga masih tergolong anak muda, tapi sudah sukses di berbagai perusahaan besar terkait teknologi. Sebagian mereka adalah relawan, namun sebagian lagi memang digaji untuk mengajar di sini. Total ada 200 tenaga pengajar TUMO.

Bila dihitung-hitung, kata Marie, maka setiap anak butuh USD 15 sampai USD 20 per bulan. Namun ini semua gratis. TUMO digerakkan oleh organisasi nonpemerintah. Dananya berasal dari donatur yang juga membangun gedung ini sebagai investasi. TUMO membiayai sendiri biaya operasional gedung ini, termasuk dari penyewaan lantai tiga dan empat gedung luas ini. Namun dana dari donatur utama memang sangat berperan.

"Sam Simonian, dia adalah pendiri dan membiayai semua ini. Operasional per tahun menghabiskan USD 2 juta," kata Deputi Direktur TUMO, Aram Gyumishyan, saat ditanyai detikcom.

Relawan TUMO dari Sydney, jauh-jauh mengajar gratis ke Armenia karena dia keturnan ArmeniaRelawan TUMO dari Sydney, jauh-jauh mengajar gratis ke Armenia karena dia keturnan Armenia (Foto: Danu Damarjati/detikcom)

Sam Simonian adalah salah satu pendiri 'Inet Technologies'. Orang kaya pebisnis telekomunikasi ini juga tidak tumbuh di negara Armenia, melainkan di Beirut Lebanon, kemudian pindah ke Dallas Amerika Serikat. Dia mendirikan Simonian Educational Foundation.

Sekarang sudah ada empat cabang TUMO di seluruh Armenia, termasuk satu di Stepanakert, wilayah Nagorno-Karabakh yang sedang disengketakan dengan Azerbaijan.

Fadli Zon kagum dengan pendidikan semacam ini. Ribuan anak bisa mengakses pelatihan gratis dengan peralatan yang memadai." Saya kira ini bisa menjadi pendidikan karakter. Karena ini berangkat dari membangun kepercayaan diri, kemauan, dan mereka bisa meraih apa yang menjadi jawaban kebutuhan sekarang," kata Fadli.

Kata dia, visi TUMO adalah visi masa depan yang sebenarnya tak hanya ditujukan untuk mencari kerja saja, melainkan lebih ke arah kreativitas.

Indonesia seharusnya bisa mengembangkan hal serupa. Pemerintah bisa memulainya. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan terlebih Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa bergerak. Gelanggang-gelanggang remaja di seluruh daerah bisa dimaksimalkan menjadi ruang pembelajaran.

"Dan orang-orang juga tertarik menjadi volunteer mengajarkan, dan outputnya juga jelas. Setelah mereka mengikuti juga ada networking. Pokoknya yang mereka mau mendaftar juga dilayani. Termasuk kalangan disabilitas juga boleh. Tapi mereka harus disiplin juga, jangan sampai tiga kali berturut-turut tidak hadir. Kalau tiga kali empat kali tidak hadir, mereka akan ditelepon. Setelah itu mereka akan dikeluarkan kalau tidak ada penjelasan. Jadi ini yang saya kira diperlihatkan oleh TUMO tadi," tutur Fadli.

Para anggota DPR ini di Armenia dalam rangka kunjungan muhibah, bertepatan dengan 25 tahun hubungan Indonesia Armenia. Selain Fadli Zon, anggota DPR yang ikut ke Armenia adalah Jimmy Demianus Ijie dari PDIP, Bambang Haryo Soekartono dari Partai Gerindra, Fadhullah dari Partai Gerindra, dan Ermalena dari PPP.

Selain mengunjungi TUMO, mereka juga mengunjungi Parlemen Nasional Armenia, Wakil Menteri Luar Negeri, Menteri Pertanian, Menteri Kehakiman, Wakil Menteri Pertahanan, dan mengunjungi berbagai situs bersejarah di negara ini.

Anak-anak sedang diajari mendesain uang di TUMOAnak-anak sedang diajari mendesain uang di TUMO (Foto: Danu Damarjati/detikcom)

Pemerintah Armenia dan Generasi Mudanya

Soal penjagaan warga termasuk pemuda Armenia dari bahaya narkoba, Armenia punya hukuman ketat untuk menanggulanginya. Ini dinyatakan oleh Menteri Kehakiman Armenia Davit Harutyunyan yang ditemui rombongan Fadli Zon pada Jumat (1/9/2017). Namun demikian, Armenia tidak menerapkan hukuman mati terhadap pelaku kejahatan narkoba. Soalnya Armenia termasuk dalam Majelis Eropa (Council of Europe) yang sangat menunjung tinggi hak asasi manusia.

"Soal hukuman mati, Armenia adalah anggota Majelis Eropa yang punya keinginan menghapuskan hukuman mati. Kami tidak menggunakan hukuman mati," kata Davit Harutyunyan.

Delegasi DPR RI juga bertemu Menteri Pertanian Ignat Arakelyan pada Kamis (31/8). Ignat menjelaskan 30 persen warga Armenia bekerja dalam bidang pertanian.

Armenia termasuk negara berpenghasilan menengah ke bawah, ini berdasarkan data Bank Dunia 2015 yang menyatakan produk domestik bruto (PDB) Armenia sebesar USD 3.500. Pada 2016, PDB per kapita Armenia menjadi USD 3.760. Kurang lebih 30 persen PDB berasal dari pertanian.

Namun masalah klasik dihadapi Armenia. Pemuda-pemudinya tak semua mau melanjutkan usaha pertanian. Seperti biasa, orang-orang pergi ke ranah-ranah ekonomi yang lebih menguntungkan. Namun pemerintah Armenia mencoba mensubsidi kaum tani, supaya nilai ekonomi mereka lebih baik. Memang Armenia masih mengimpor kebutuhan dari negara tetangga, misalnya pupuk dari Georgia, Iran, atau Rusia.

"Kalau cuma punya satu hektare atau dua hektare, jangankan generasi muda, bahkan generasi tua juga berpikir untuk melanjutkan pertaniannya. Tapi ada pula yang punya 10 hektare, 20 hektare, dan memilih hidup di desa serta mengusahakan pertanian. Kami tidak meningkatkan volume namun nilai," kata Ignat.
(dnu/jbr)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed