3 Sandera WNI di Filipina Dipastikan Sehat & Selamat
Senin, 16 Mei 2005 01:47 WIB
Jakarta - Satu dari tiga sandera WNI di Filipina sempat dikabarkan telah dieksekusi. Namun kini ketiganya dipastikan dalam kondisi sehat dan selamat.Meski demikian mereka masih berada di hutan di bawah Kelompok Jammiah Al Islamiah Mindanao Selatan Filipina pimpinan Abu Ali dan Abu As'ad."Ketiganya dalam kondisi sehat dan selamat. Ini berdasarkan informasi dari pihak penghubung Konsulat Jenderal RI di Tawau yang melakukan kontak dengan salah satu penghubung kelompok penyandera pada Sabtu 14 Mei pukul 14.00 waktu setempat," jelas Kepala Bidang Operasional Kontras Edwin Partogi kepada wartawan di Kantor Kontras, Jakarta Pusat, Minggu (15/5/2005).Kabar mengenai kondisi ketiga sandera yang selamat itu diperoleh setelah Kontras melakukan kontak dengan Kepala Kantor Penghubung KJRI Kota Kinabalu di Tawau, Malaysia. Info itu juga datang dari kontak dengan Kepala Bidang Penerangan KJRI di Davao berdasarkan laporan intelijen setempat."Sandera berada di tangan Abu Ali dan Abu As'ad. Mereka masih berada di hutan dengan kondisi selamat," jelas Edwin menerangkan perkembangan terakhir penyanderaan tiga WNI di Filipina tersebut.Menurut Edwin, sandera dan penyandera telah diberikan obat-obatan dan kamera melalui kurir di Jamboanga pada 13 Mei 2005.Mengenai uang tebusan yang diminta penyandera, hingga kini belum dipenuhi oleh pemerintah Indonesia maupun Malaysia, serta pengusaha di Malaysia dengan alasan khawatir dijadikan alat pemerasan.Hingga kini pihak keamanan Filipina masih melakukan penyisiran di Kepulauan Tawi-tawi, Filipina Selatan. Namun belum ditemukan sandera dan penyanderanya.Hanya saja memang ditemukan speed boat yang digunakan para penyandera. Wilayah tersebut sebenarnya memang tidak dikendalikan sepenuhnya oleh aparat keamanan Filipina, sehingga terdapat banyak kelompok bersenjata.Erikson Hutagaol asal Porsea, serta dua rekannya yakni Ahmad Resmiadi (32) asal Jakarta dan Yamin Labuso (26) asal Ternate merupakan anak buah kapal (ABK) berbendera Malaysia "Bonggaya 91".Ketiganya mengalami penculikan di antara Kepulauan Tawi-tawi Filipina dengan Sabah Malaysia. Mereka disandera sejak 30 Maret 2005 oleh kelompok bersenjata yang mengklaim diri sebagai Jammi Al Islamiah Mindanao Selatan Filipina, yang disebut-sebut merupakan bagian dari kelompok Jamaah Islamiyah.Penyandera menuntut uang tebusan sebesar 100 ribu peso kepada Indonesia dan memberi batas waktu hingga 11 Mei lalu. Selain itu penyandera juga minta uang tebusan sebesar 3 juta ringgit kepada Malaysia. Namun karena belum dipenuhi, beredar kabar kalau satu dari tiga sandera sudah dieksekusi.
(sss/)











































