Mau Ketemu Walikota, Lima Aktivis Malah Dipukuli Preman
Minggu, 15 Mei 2005 00:03 WIB
Palembang - Niat baik akan bertemu walikota, malah bogem mentah didapat. Itulah nasib yang harus diterima lima aktivis di Palembang. Mereka dipukuli oleh para preman pasar hingga babak belur.Aksi penganiayaan yang sebelumnya diawali dengan penculikan itu terjadi saat digelar acara Bazar Murah di Pasar Ritel Jakabaring, Jakabaring, Palembang, Sabtu (14/5/2005).Kelima korban itu adalah Edward Antony, Fadli Marhan dan Pipin Susani Juniar dari Barisan Rakyat untuk Keadilan (Barak), Tommy Indriadi Agustian dan Eman dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sumatera Selatan. Kelima korban itu kemudian dibawa ke Rumah Sakit BARI dan melaporkan peristiwa itu kepada Kepolisian Resort Seberang Ulu I Palembang.Peristiwa sial yang dialami lima aktivis itu bermula ketika mereka mau menemui Walikota Palembang Eddy Santana Putra di antara kegiatan Bazar Murah di Pasar Ritel Jakabaring itu. Mereka bertemu dengan Eddy Santana berkaitan dengan penyelesaian pengggusuran para pedagang kaki lima di Pasar 16 Ilir dan rencana pemindahan mereka ke Pasar Ritel Jakabaring.Bukannya bertemu walikota, malah mereka dihadang beberapa preman. Sebelum dipukuli mereka diculik terlebih dahulu dan dibawa ke suatu tempat di dekat pasar itu. "Kami dipukuli oleh beberapa preman. Sebelum memukul mereka mengancam jangan lagi menyinggung soal premanisme," kata Edward. Perlakuan yang sama dirasakan Pipin Susani Juniar, Tommy Indriadi Agustian. Sementara Eman dan Fadli dipukuli saat mereka mau menyelamatkan ketiga teman mereka saat dikeroyok.Isu premanisme memang mencuat seiring rencana penggusuran pedagang kaki lima di Pasar 16 Ilir dan rencana pemindahan ke Pasar Ritel Jakabaring. Dikabarkan para pedagang takut pindah ke Pasar Ritel Jakabaring lantaran tidak aman atau adanya gangguan dari preman, seperti penodongan dan pemalakan.Pasca bentrokan itu suasana menegang di kalangan aktivis pro demokrasi. Sebab terdengar kabar akan ada serangan para preman ke rumah para aktivis pro demokrasi. "Saya terpaksa mengumpulkan keluarga di rumah. Cemas kalau-kalau diserang preman," kata seorang aktifis LSM."Kami meminta aparat polisi segera menangkap dan menghukum para pelaku," kata Febuar Rachman, selaku kuasa hukum korban kepada detikcom di Palembang, Sabtu (14/5/2005) malam. Namun menurut Kasat Intelpam Poltabes Palembang AKP Ratno Kuncoro, saat dihubungi dalam kesempatan terpisah mengatakan para pelaku sampai saat ini masih diburu.
(mar/)











































