DetikNews
Jumat 01 September 2017, 11:06 WIB

Tapal Batas

Keluhan Pedagang Pasar Entikong soal Barang Indonesia dan Malaysia

Danu Damarjati - detikNews
Keluhan Pedagang Pasar Entikong soal Barang Indonesia dan Malaysia Pasar Entikong/Foto: Rachman Haryanto
Sanggau - Banyak barang-barang dari Malaysia yang diperdagangkan di Pasar Entikong, tak jauh dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu. Ada sebab yang melatarbelakangi para pedagang di sini kulak dari Malaysia.

Pedagang yang ditemui detikcom pada Sabtu (15/7/2017) di Pasar Entikong menjelaskan, mereka memilih kulakan barang dari Malaysia karena harga barang dari Negeri Jiran relatif lebih murah. Bukan hanya itu, sebagian dari mereka juga merasa kualitas barang dari Malaysia lebih baik ketimbang yang diproduksi di Indonesia.

"Kami nggak seberapa percaya dengan barang-barang dari Indonesia," kata Dauglas, pedagang yang punya 'Toko Herik' di seberang Pasar Entikong.

Dia mencontohkan produk tahu, makanan sederhana berharga tak seberapa itu saja sudah ada yang dicemari formalin. Bila makanan tahu saja sudah tak terjamin, bagaimana dengan produk-produk penting lainnya? Ini membuat pedagang berpikir. Apalagi barang dari Malaysia masih relatif lebih murah ketimbang dari Indonesia.

"Gula, itu kita heran. Kualitas kurang, tapi harga lebih mahal," kata Dauglas.

Pria Dayak asli Entikong ini juga menjual gas merek Petronas di tokonya, ukuran 14 kilogram. Produk Malaysia itu dia jual seharga Rp 180 ribu, adapun harga jual dengan tabungnya adalah Rp 450 ribu atau Rp 500 ribu. Dia bahkan tak melirik peluang untuk jualan gas produk Indonesia. Kenapa?

"Gas dari Indonesia juga saya nggak berani menjualnya. Di banyak berita TV itu malah meledak, macam-macam itu. Harusnya dibuat tebal sedikit supaya nggak meledak gasnya. Itu bagaimana perlindungan konsumen?" gugatnya.

Dia berpendapat tabung gas merek Petronas punya material lebih tebal ketimbang tabung gas dari Indonesia.

Tabung gasTabung gas di Pasar Entikong Danu Damarjati/detikcom)


Adapun Suparman, pemilik toko di sudut dalam Pasar Entikong, menilai pupuk dari Indonesia punya efek yang tak diinginkan petani. Pupuk dari Malaysia menjadi primadona di sini. Meski begitu, memasukkan pupuk dari Malaysia ke Indonesia dikatakannya sudah sulit dilakukan.

"Rata-rata petani sahang (lada) dikasih pupuk dari Indonesia itu malah mati sahangnya. Kalau dulu pakai pupuk Jambatan dari Malaysia. Tapi sekarang pupuk itu nggak boleh masuk Indonesia. Pernah, pupuk kita ditangkap karena beli dari sana (Malaysia), padahal nggak banyak," keluh Suparman.

Dia mempunyai ladang lada (sahang), sawah padi, dan sawit. Berdasarkan pengalamannya, pupuk dari negara tetangga sebelah itu memang lebih cocok untuk tanamanya. "Kalau pupuk Indonesia, sahang bisa mati," kata dia.

Dia berbicara sambil sesekali menata barang-barang dagangannya di rak. Barang dari Malaysia ada susu krimer, susu coklat bubuk, dan sampo. Ada pula ikan kalengan produk China namun dia beli di Malaysia.

Pedagang sayur-mayur bernama Verawati (32) menjual wortel, kentang, dan kol (kubis) dari Malaysia. Hasil bumi ini lebih murah, selisih Rp 5 ribu dengan yang berasal dari Indonesia. Meski begitu, sebagian barang dagangannya tetap berasal dari Indonesia.

Barang-barang dari Malaysia di Pasar Entikong Danu Damarjati/detikcom)Foto: Barang-barang dari Malaysia di Pasar Entikong (Danu Damarjati/detikcom)


Keluhan Pedagang Pasar Entikong soal Barang Indonesia dan MalaysiaFoto: Barang-barang dari Malaysia di Pasar Entikong (Danu Damarjati/detikcom)


Ingin Kulakan ke Malaysia Tanpa Batas

Di pasar yang tak terlalu besar ini, produk Malaysia seolah bukan barang asing. Mereka biasa mendapatkan barang-barang itu dari penggunaan kuota belanja 600 Ringgit per bulan yang dimiliki warga perbatasan pemegang Kartu Identitas Lintas Batas (KILB). Warga yang dimaksud yakni yang tinggal di dua kecamatan, Entikong dan Sekayam.

Dauglas juga memanfaatkan jatah 600 Ringgit per bulan itu untuk kulakan. Belanjaan itu bakal dihitung petugas Bea dan Cukai Entikong sebagai barang bebas pajak. Namun dia merasa jatah itu kurang banyak. Dia ingin masyarakat perbatasan dibebaskan berbelanja sebanyak mungkin. Dia tak keberatan bila nantinya belanjaan dikenakan pajak. Ini seharusnya, menurut dia, tak perlu dibikin sulit.

"Sudah sejak Indonesia merdeka lah dipersulit seperti ini," keluh Dauglas.

"Kalau pemerintah mau ambil cukai pajak dari kami yang beli barang dari Malaysia, ya nggak masalah lah. Kalau nggak merugikan negara, silakan ambil pajaknya," protesnya.

Suparman kebetulan juga sependapat dengan Dauglas. Menurutnya belanja ke Malaysia saat ini sudah tak semudah masa dulu. Dia ingin kulakan ke Malaysia dipermudah.

"Sekarang agak susah, karena aturan dari Bea Cukai. Kita belanja sedikit saja harus izin pakai surat," keluh Suparman.

Baca juga: Ekspor-Impor di PLBN Entikong Terhalang Bukit

Pasar Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat (Rachman Haryanto/detikcom)Pasar Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat (Rachman Haryanto/detikcom) Foto: Pasar Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat (Rachman Haryanto/detikcom)


Soal impor dan ekspor Malaysia-Indonesia, sebenarnya ada sesuatu yang menghalangi. Sebuah bukit masih berdiri merintangi jalur kargo yang seharusnya menghubungkan PLBN Entikong ke Inland Port Tebedu Malaysia. PLBN Entikong-pun masih belum punya kode pelabuhan. Terminal barang internasional juga belum dipunyai oleh PLBN Entikong.

Jembatan timbang di PLBN Entikong juga belum bisa difungsikan, soalnya jalur kargo masih terhalang bukit. Maka hingga kini PLBN Entikong belum bisa dimasuki truk-truk niaga yang membawa barang impor dari Malaysia. Itulah mengapa semua barang dari Malaysia diangkut menggunakan mobil pribadi, tak boleh pakai pikap atau truk.

Lalu apa jadinya bila impor dari Malaysia dibuka selebar-lebarnya? Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri ingin agar Indonesia menggalakkan ekspor, bukan impor. "Kita harus ambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari adanya perbaikan pos di Entikong ini, dan saya meyakini harga kita lebih kompetitif dibanding negara lain. Kita lebih banyak bisa ekspor dibanding impor," kata Jokowi saat meresmikan PLBN Entikong pada 21 Desember 2016 lampau.

Simak terus cerita-cerita dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.


(dnu/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed