detikNews
Kamis 31 Agustus 2017, 17:54 WIB

Jurus Kementan Cegah Penyebaran Anthrax di Sulsel dan Gorontalo

Niken Widya Yunita - detikNews
Jurus Kementan Cegah Penyebaran Anthrax di Sulsel dan Gorontalo Ilustrasi suntik anthrax (Adhar Muttaqin)
Jakarta - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros mendapatkan laporan adanya kasus anthrax di Dusun Moncongjai, Desa Rompegading, Kecamatan Cenrana, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kementan melakukan cara untuk mengatasi hal tersebut.

Dilaporkan sapi yang mati di lokasi tersebut 3 ekor, yaitu 1 ekor terjadi pada 8 Agustus 2017, 1 ekor pada 11 Agustus 2017, dan 1 ekor pada 21 Agustus 2017.

Dalam keterangan tertulis dari Kementan, Kamis (31/8/2017), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) telah mengerahkan tim ke lokasi untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit Anthrax di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Gorontalo. Selain itu menginvestigasi dan pengambilan sampel untuk pengujian laboratorium serta memberikan bantuan vaksin dan obat-obatan.

Menurut Kepala Balai Besar Veteriner Maros, Sulaxono Hadi, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen PKH, pada 22 Agustus 2017 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros beserta pihak kepolisian telah melakukan investigasi ke lapangan untuk mengetahui penyebab kematian ternak sapi. Mereka juga mengambil sampel potongan telinga ternak yang mati.

Dari sampel potongan telinga sapi yang mati tersebut selanjutnya diuji di Laboratorium Bakteriologi Balai Besar Veteriner Maros. Sulaxono menjelaskan, berdasarkan hasil pengujian sampel tersebut pada 23 Agustus, telah teridentifikasi dan diyakini adanya kuman Bacillus anthracis. Kuman tersebut merupakan penyebab penyakit anthrax.

Berdasarkan laporan tersebut, Balai Besar Veteriner Maros pada 24 Agustus 2017 bersama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel dan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Kabupaten Maros mengerahkan tim ke lapangan untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit anthrax tersebut.

Tindakan yang telah dilakukan antara lain:

1). Melakukan isolasi terhadap sapi yang berada di daerah tersebut agar tidak digembalakan dan dibawa keluar dari desa tertular.
2). Melakukan pengobatan dan melaksanakan vaksinasi anthrax.
3). Melakukan penyemprotan disinfektan pada tanah yang tercemar.
4). Melakukan penguburan dan pembakaran terhadap bangkai sapi.
5). Melakukan public awareness kepada masyarakat melalui TV, media cetak, dan radio.

Bantuan vaksin dan obat-obatan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan telah diberikan kepada masyarakat pada 24 Agustus 2017 berupa vaksin anthrax 2.000 dosis, injectamin 10 botol, antibiotik 14 botol, disinfektan 7 liter, obat cacing 2 pot, dan formalin 5 liter.

"Vaksinasi massal juga telah dilakukan terhadap 300 ekor sapi dan pengobatan juga telah diberikan terhadap 118 ekor sapi," ungkap Sulaxono.

Menurutnya, hingga saat ini kasus telah bisa dikendalikan dan tidak ditemukan kematian sapi.

Sementara itu, terkait adanya kasus anthrax di Gorontalo, Ditjen PKH Kementan pada 25 Agustus 2017 hingga hari ini telah mengerahkan tim yang diketuai oleh Sulaxono dan tim telah turun ke lokasi kasus. Selain tim pusat, tim Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo turun ke lokasi.

Tim gabungan sampai saat ini masih melakukan pengamanan dan pengendalian bersama dinas dan kepolisian setempat. Dalam investigasi yang dilakukan oleh tim tersebut diperoleh laporan adanya 6 ekor sapi yang mati pada 28 Agustus 2017 milik seorang peternak bernama Usman Ismail di Kelurahan Bolihuangga dan Kelurahan Tenilo, Kecamatan Limboto.

Pengambilan sampel terhadap ternak yang mati telah dilakukan oleh petugas Dinas untuk diperiksa secara cepat dengan pewarnaan sederhana di laboratorium kabupaten. Hasil pengujian cepat di laboratorium kabupaten menunjukkan adanya kuman batang papak yang diduga kuat merupakan kuman Bacillus anthracis.

Pada 30 Agustus 2017, Tim BBVet Maros dan Tim Direktorat Kesehatan Hewan di lapangan menjumpai adanya 4 ekor sapi mati di kelurahan yang sama yang diduga terserang anthrax. Pengambilan sampel telah dilakukan tim untuk diuji di Laboratorium Bakteriologi BBVet Maros.

Tim gabungan langsung menindak untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit anthrax di daerah ini antara lain:

1). Pada 28 Agustus telah dilakukan vaksinasi 295 ekor sapi dan pengobatan antibiotika terhadap 117 ekor sapi.
2). Melakukan penutupan wilayah tertular.
3). Menjaga lalu lintas ternak bekerja sama dengan kepolisian setempat dan melakukan pelarangan bagi peternak untuk melalulintaskan ternak sapinya keluar dari desa dan kecamatan tertular.
4). Melakukan komunikasi dan edukasi kepada masyarakat terkait dengan tata cara penanganan dan pengendalian penyakit anthrax.
5). Public awareness pada TVRI lokal yang dilakukan pada 30 Agustus dengan narasumber Kepala Dinas Pertanian Provinsi, Kadis Peternakan dan Kesehatan Kabupaten Gorontalo dan Kepala BBVet Maros.

Selain itu, pemerintah pusat melalui timnya telah memberikan bantuan obat-obatan untuk peternak pada 10 Agustus berupa Limoxin 42 botol, Buposolamin 12 botol, serta Destan 12 botol. Saat ini tim masih di lokasi untuk melaksanakan investigasi serta tindakan yang diperlukan di lapangan.

Selain itu, pada hari ini Tim BBVet Maros bersama Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo, serta TNI juga melakukan pengawasan intensif di pasar, kios daging, dan tempat pemotongan hewan (TPH), serta tempat penampungan hewan kurban di Kota Gorontalo.
(nwy/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com