Jembatan Ambruk, Jalur Lintas Tengah Sumatera Putus Total
Sabtu, 14 Mei 2005 14:27 WIB
Palembang - Akibat Jembatan Air Lingsing di Kikim Tengah, Lahat, Sumatera Selatan, ambruk. Jalan Lintas Tengah Sumatera yang menghubungkan Lahat-Kecamatan Tebing Tinggi, putus total. Meskipun tak ada korban jiwa, ratusan kendaraan sampai siang ini masih tertahanTonase jalan jembatan yang melintasi Sungai Air Lingsing itu hanya dapat menahan beban sekitar 50 ton. Namun, Jumat (13/5/2005) tujuh truk dengan kapasitas mencapai 200 ton lebih lewat. Maka, braakk! Jembatan itu ambruk. Jembatan yang panjangnya sekitar 52,2 meter dengan lebar 6 meter itu dibangun tahun 1977-1978 lalu, adalah jenis jembatan Calender Hamilton (CH) yang kekuatannya bertumpu pada kedua ujung jembatan. Tidak ada tiang penyangga di tengahnya. Jembatan itu ambrol ke bawah hingga mengenai air sungai bersama tujuh truk. Truk-truk tersebut mengalami kerusakan, terutama di bagian depan dan belakangnya karena terhimpit, semua sopir selamat. Hanya seorang penduduk, Mahani (65), menderita luka parah di kaki kanannya. Lukanya di bagian mata kaki dan nyaris putus. Saat kejadian dirinya sedang mencuci di bawah jembatan. Kedalaman air yang mengalir di sungai itu hanya sekitar setengah atau satu meter. Ketujuh kendaraan terdiri dari dua truk jenis Fuso Intercoler bermuatan kayu olahan masing-masing diperkirakan membawa muatan lebih dari 45 ton. Lalu dua kendaraan angkutan jenis Fuso biasa mengangkut kopi diperkirakan membawa beban masing-masing lebih dari 20 ton, dan dua kendaraan Fuso Dumptruck yang membawa material agregat batuan pecah. Sedangkan satu kendaraan lainnya berupa truk bermuatan kelontongan. Diperkirakan total beban muatan kendaraan lebih dari 200 ton.Mengapa ketujuh truk itu lewat secara bersamaan? Mungkinkah truk-truk itu lolos dari petugas di jembatan timbangan? Menurut Kepala Dinas Perhubungan Sumatera Selatan Amir Syarifuddin yang dihubungi pers (14/5/2005) mengatakan kendaraan yang melebihi tonase, biasanya tidak bisa lewat ketika melewati timbangan. Apalagi menurutnya posisi jembatan timbang berada cukup jauh dari jembatan berlokasi di Kota Baru Martapura. Dengan jarak sejauh itu, diperkirakan sopir bisa jadi menambah muatan atau juga mengurangi muatan di tengah jalan."Biasanya kalau melebihi tonase akan ditindak. Namun setelah lewat jembatan timbang tentunya kita tidak bisa kontrol lagi. Tapi setahu saya karena secara bersamaan di atas jembatan tersebut ada tujuh kendaraan," katanya.Sementara menurut saksi saksi mata Nasrullah, yang dihubungi detikcom, pada saat ambruk, posisi ketujuh kendaraan angkutan ini tepat berada di tengah jembatan.Bahkan, saat berada di atas jembatan atau berlintasan, sejumlah kendaraan berhenti karena sopir kendaraan menyempatkan diri ngobrol di atas jembatan. Akibatnya, kendaraan dari kedua arah menumpuk di atas jembatan. Diduga karena tidak kuat menahan beban ketujuh kendaraan inilah, jembatan ambruk dari ketinggian enam meter. Beberapa saat setelah ambruk, Pemerintah Daerah Lahat langsung mengirim eskavator untuk melakukan evakuasi ketujuh kendaraan itu. Sampai siang ini (14/5/2005) ketujuh kendaraan sudah dapat diangkut dan jembatan tengah dibongkar. Sehingga bila air sungai meluap aliran air sungai tidak terganggu. Dikhawatirkan bila tidak segera dievakuasi maka rumah penduduk yang berada di bantaran sungai terancam banjir akibat diterjang arus air bila sewaktu-waktu terjadi banjir.
(jon/)











































