Imunisasi Polio Massal Masih Dilakukan Terbatas
Sabtu, 14 Mei 2005 13:30 WIB
Jakarta - Departemen Kesehatan masih mengutamakan imunisasi polio massal secara terbatas hanya untuk tiga provinsi yang sudah terkena kasus, sehingga belum akan ada imunisasi massal secara nasional."Itu merupakan standar penanggulangan yang dilakukan negara manapun di dunia jika terjadi kasus seperti ini, daerah yang terdekat yang diutamakan," kata Dr. Muhammad Nadirin, Kasubdit Surveilans Etidemologi Dirjen Pemberantasan penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPMPL) Depkes, di sela acara Bincang Sabtu pagi yang berlangsung di Marios Place Kuningan Jakarta,(14/5/2005).Tiga provinsi yang akan melakukan imunisasi massal polio adalah Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Imunisasi massal itu akan dilakukan dalam dua tahap, yakni tanggal 31 mei 2005 dan 28 Juni 2005. Sasaran imunisasi massal ini adalah anak balita tanpa melihat status imunisasi sebelumnya yang jumlahnya mencapai 5,2 juta anak. Dana yang disediakan Depkes sekitar Rp 41 miliar untuk tiga provinsi ditambah bantuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizations/WHO) dan negara asing seperti Australia.Menurut Nadirin, imunisasi massal dilakukan untuk meminimalisasi dan mengantisipasi penyebaran virus polio. Selain itu, Depkes juga berupaya melokalisir virus yang menyebar melalui tinja di daerah yang sudah terkena, agar tetap disitu. Sedangkan bagi penderita yang sudah positif menderita polio menurut Nadirin akan dibiayai rumah sakit setempat sampai pada proses fisioterapinya namun pada batas-batas tertentu. Mengenai perlunya rumah sakit khusus, menurut Nadirin untuk penanganan polio sebenarnya tidak dibutuhkan peralatan canggih, karena sampai saat ini memang tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit polio. Namun ia menilai fasilitas rumah sakit yang ada termasuk di Sukabumi sudah sangat mencukupi. "Khususnya dalam hal universal precaution dimana belum terjadi penyebaran melalui tinja," katanya.Nadirin juga menjelaskan, bahwa polio yang telah masuk ke Jakarta bukan aslidari Jakarta, karena korban yang dinyatakan positif tersebut terkena di Sukabumi. "Penderita itu adalah orang Sukabumi yang mempunyai rumah di Jakarta. Jadi waktu dia terinfeksi polio pada saat berada di Sukabumi," katanya.Dia juga menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak perlu khawatir terhadap ancaman penyebaran virus polio. Pasalnya, Depkes telah mempunyai agen-agen desease inteligent yang melakukan survei di seluruh Indonesia untuk mencari dan menemukan AFP (Acute Palccid Paralysis) atau lumpuh layuh yaitu kumpulan penyakit yang memberikan gejala seperti polio. Saat ini menurut data Depkes, polio yang disebabkan oleh AFP jumlahnya kurang dari satu persen.
(ir/)











































