Duh! 43 Ribu Meter Kubik Limbah Dibuang ke Sungai Ciujung Banten Tiap Hari

Duh! 43 Ribu Meter Kubik Limbah Dibuang ke Sungai Ciujung Banten Tiap Hari

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Selasa, 29 Agu 2017 21:54 WIB
Duh! 43 Ribu Meter Kubik Limbah Dibuang ke Sungai Ciujung Banten Tiap Hari
Sungai Ciujung sepertinya bersih, padahal baunya busuk (Bahtiar Rifai/detikcom)
Serang - Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang mengakui adanya pembuangan limbah ke Sungai Ciujung. Volumenya mencapai 43 ribu meter kubik. Rakyat dapat apa?

"Pembuangan itu ada tetap selama (debit air) belum nol. Kalau sudah nol, SOP-nya terutama Indah Kiat, yang punya kapasitas terbesar 37 ribu meter kubik per hari, tidak boleh membuang ke Ciujung lagi, harus melalui tandon," kata Kustaman, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang, saat berbincang dengan detikcom di Kota Serang, Banten, Selasa (29/7/2017).

Selain Indah Kiat, Kustaman mengatakan, ada lebih dari 15 industri di kawasan Cikande yang juga membuang limbah ke kawasan tersebut. Namun limbah dialirkan melalui Sungai Cikambuy, lalu ke Sungai Ciujung. Per harinya, 15 industri tersebut rata-rata membuang 6.000 meter kubik limbah. Totalnya menjadi 43 ribu meter kubik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kustaman menjelaskan, jika memasuki masa kemarau kritis, semenjak 2015, Dinas meminta penyediaan tandon sebagai penampung limbah. Pihak industri dilarang membuang limbah ke Sungai Ciujung.

Kustaman membantah bila dikatakan menghitamnya Sungai Ciujung akibat pembuangan limbah dari kawasan Cikande. Menurutnya, Sungai Ciujung menghitam akibat fotosintesis organisme di bawah sungai.

"Itu endapan relatif tidak terangkat. Otomatis dalam proses fotosintesis bagian bawah terangkat ke atas, sehingga hitam," ujarnya.

Lalu apa kompensasi apa yang diberikan kepada warga terdampak begitu sungai menghitam. Apalagi, bagi warga di hilir, seperti Tirtayasa, sungai digunakan untuk kebutuhan air bersih, irigasi, serta tambak ikan dan udang.

Kustaman menjelaskan ada lima kecamatan yang kritis akibat pembuangan limbah ke Ciujung, yaitu Tirtayasa, Tanara, Pontang, Carenang, dan Bandung. Dari lima kecamatan tersebut, 20 desa di antaranya mengalami krisis air, terutama untuk kebutuhan domestik.

"Sebanyak 20 desa mengalami krisis air, terutama kebutuhan domestik, makanya tiap tahun ada bantuan air bersih," kata Kustaman.

Kebutuhan air bersih tersebut, Kustaman mengatakan, disediakan oleh pihak PDAM bekerja sama dengan Indah Kiat Pupl & Paper ditambah 15 perusahaan di kawasan Modern Cikande yang rutin membuang limbah.

"Dihitung dari 20 desa itu, kebutuhan pada masa kritis misalkan 2 bulan. Diatur sedemikian rupa per minggu satu desa misalkan 5.000 liter," ujarnya.

Kustaman mengklaim sudah berjuang untuk normalisasi Sungai Ciujung. Surat sudah diberikan ke Kementerian PUPR dan ke Dirjen Sumber Daya Air Kementerian LHK. Apalagi sungai tersebut melintasi banyak kabupaten di daerah Banten. (bri/fay)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads