detikNews
Selasa 29 Agustus 2017, 11:22 WIB

Anggota DPR Kecam Pembantaian Warga Rohingya di Rakhine Myanmar

Andhika Prasetia - detikNews
Anggota DPR Kecam Pembantaian Warga Rohingya di Rakhine Myanmar Foto: Sidang Paripurna HUT DPR. (Andhika Prasetia/detikcom).
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Jakarta - Anggota Komisi I DPR Jazuli Juwaini mengutuk aksi kekerasan dan pembantaian warga Rohingya di Rakhine Myanmar. Menurut Ketua Fraksi PKS itu, aksi pembantaian ini sudah tak bisa ditolerir.

"Apa yang terjadi di Rohingnya sangat menyedihkan, di luar akal sehat dan nurani kemanusiaan kita yang beradab, sehingga tidak bisa lagi ditolelir," ujar Jazuli membacakan sikap resmi Fraksi PKS di Sidang Paripurna HUT ke-72 DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Jazuli meminta aksi kekerasan ini segera dihentikan. "Dunia berduka, dan tidak berhenti di situ atas nama tanggung jawab kemanusiaan universal kita harus menghentikan pembantaian manusia di sana," imbuhnya.

Jazuli pun mengatakan, fraksinya akan menggalang aksi solidaritas untuk Rohingya.


"Kami di Fraksi PKS akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu saudara-saudara kita di sana melalui berbagai saluran dan kewenangan yang kami miliki, semata-mata atas nama kemanusiaan yang adil dan beradab," papar Jazuli.

Selain Jazuli, kecaman juga datang dari Anggota Fraksi PAN Haeruddin. Dia menyoroti nasib pengungsi warga muslim Rohingya yang hingga kini masih terlunta-lunta.

"Di hari ulang tahun DPR yang berbahagia hari ini, sebagian masyarakat kita terutama kelompok muslim Rohingya mereka masih terlunta-lunta mengunsi di Bangladesh dan ditolak Bangladesh. Sebagai amanat konstitusi mohon disampaikan ke pemerintah RI yang ikut dalam menciptakan ketertiban dunia," ujar Haeruddin.

"Mohon bersikap atas pelanggaran HAM pemerintah Myanmar dan mohon juga disampaikan kepada negara tetangga lebih ramah kepada para pengungsi. Kalau bisa pemerintah Indonesia bersikap dan bertindak bagaimaan mengulurkan tangan dan bantuan untuk mereka yang hari ini jadi korban kekerasan," sambung anggota Komisi IX itu.


Sebanyak 20 warga Rohingya ditangkap otoritas Bangladesh pada Minggu (27/8) dan dipulangkan ke Myanmar setelah menyeberangi sungai Naf di perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh.

Lebih dari 100 orang telah tewas di Rakhine sejak Jumat (25/8) lalu, ketika puluhan pria yang disebut berasal dari kelompok Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA) menyerang pos-pos polisi dengan pisau, senjata api dan bahan peledak rakitan. Banyak penduduk sipil Rohingya mengungsi dengan melintasi perbatasan ke Bangladesh, namun penjaga perbatasan mengusir sebagian dari mereka kembali ke wilayah Myanmar.

Kekerasan terbaru ini marak setelah serangan-serangan serupa pada Oktober 2016 lalu, ketika sembilan polisi tewas dalam serangan militan Rohingya di pos perbatasan yang memicu operasi militer besar-besaran dan menyebabkan ribuan warga Rohingya mengungsi. Pemerintah Myanmar menegaskan operasi dilancarkan untuk memburu para militan Rohingya. Namun operasi tersebut sarat diwarnai dugaan pelanggaran HAM oleh aparat keamanan Myanmar.
(dkp/elz)
FOKUS BERITA: Krisis Rohingya
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com