DetikNews
Rabu 23 Agustus 2017, 03:09 WIB

Pesan Toleransi dan NKRI Harga Mati dari Timor Tengah Utara NTT

Audrey Santoso - detikNews
Pesan Toleransi dan NKRI Harga Mati dari Timor Tengah Utara NTT Foto: Suasana kelas wawasan nusantara di SMU Nuruf Falah, Timor Tengah Utara, NTT. (Audrey-detikcom)
Timor Tengah Utara - Siswa/siswi SMU Nuruf Falah, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) mengikuti kelas wawasan nusantara yang digelar Polres TTU. Para pelajar itu terdengar menyerukan semboyan NKRI harga mati.

Materi wawasan nusantara itu diberikan oleh Kepala Satuan Lalu Lintas Polres TTU AKP Sudirman. Selain itu, materi tertib berlalu lintas juga disampaikan.

"Wawasan nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia dan sikap mengenai diri dan bentuk geografisnya berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945," ujar Sudirman di SMU Nuruf Falah, TTU, NTT, Selasa (22/8/2017).

"Ideologi negara kita sudah jelas karena dimana-mana tertulis 'Saya Indonesia, Saya Pancasila'. NKRI harga?" ucap Sudirman yang dengan sengaja memutus kalimat semboyan tersebut.

Lalu murid-murid kompak menyambung kalimat terakhir semboyan itu. "Mati!" sambung murid-murid.

Sudirman pun mengetes kemampuan pendidikan kewarganegaraan para siswa/siswi dengan melontarkan pertanyaan mengenai Empat Pilar Kebangsaan. Seorang siswi mengacungkan jari, mengajukan diri untuk menjawab.

"Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, NKRI, UUD 1945," jawab siswi tersebut.

Suasana kelas wawasan nusantara di SMU Nuruf Falah, Timor Tengah Utara, NTT.Suasana kelas wawasan nusantara di SMU Nuruf Falah, Timor Tengah Utara, NTT. Foto: Audrey-detikcom

Di akhir kelas, Sudirman mengaku bangga siswa/siswi di wilayah dinasnya sudah mengenal jati-diri Indonesia dengan menjawab benar Empat Pilar Kebangsaan.

"Saya senang dan bangga mereka bisa jawab dengan benar. Guru-guru di sini berarti mengajarkan murid-muridnya dengan baik," kata Sudirman kepada detikcom.

Kepala Sekolah SMU Nurul Falah, Idham Khalid, secara terpisah menjelaskan karakter nasionalisme sengaja ditanamkan kepada para murid. Jiwa toleransi antarumat beragama juga dijunjung tinggi dalam proses belajar mengajar.

"Kita salah satu sekolah yang sifatnya toleran. Sekolah Islam tapi mayoritas Katolik. Di sini guru Muslimnya hanya 5 orang, selebihnya Protestan. Di sekolah ini pelajaran agama masing-masing kita pisah," terang Idham kepada wartawan.

Idham mengatakan, meski didirikan Yayasan Pendidikan Islam Babus Salam, murid-murid SMU Nurul Falah kebanyakan umat Nasrani. "Murid di sini totalnya 239. Yang Katolik 119 orang, yang Islam hanya ada 42 (murid), orang Protestan ada 78," jelasnya.

Semangat NKRI, kata Idham, sengaja digaungkan terus-menerus agar murid-murid memiliki rasa nasionalisme. Menurut Idham, perbedaan agama bukan hal yang perlu dipermasalahkan.

"Pembinaan rohani yang kita utamakan, masalah akhlak moral, masalah toleransi. Misalnya ada Idul Fitri, teman-teman Katolik yang membantu," ujarnya.

Suasana kelas wawasan nusantara di SMU Nuruf Falah, Timor Tengah Utara, NTT.Suasana kelas wawasan nusantara di SMU Nuruf Falah, Timor Tengah Utara, NTT. Foto: Audrey-detikcom

Masih kata Idham, bahkan pihak sekolah mengikutsertakan muridnya dalam lomba baca alkitab yang digelar gereja setempat. "Lomba baca alkitab diselenggarakan gereja, kita malah juara satu," tutur dia.

Sementara itu, Kapolres TTU AKBP Rishian Krisna mengatakan, murid beragama Islam di SMU Nurul Falah mayoritas adalah keturunan penduduk pendatang dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Krisna menilai pihak sekolah berhasil menciptakan toleransi antarmurid.

"Saya tertarik dengan sekolah yang didirikan yayasan pendidikan Islam, tetapi di dalamnya terdiri dari murid dengan latar belakang agama berbeda, seperti Protestan. Bahkan sebagian besar muridnya beragama Katolik," kata Krisna.

Seorang murid kelas XI bernama Faisal Waris mengaku kerap membantu kegiatan kawan-kawannya yang beragama Nasrani, begitupun sebaliknya.

"Di sini saling menolong. Kalau saya, agama saya Islam, tapi bantu jaga-jaga dan bantu-bantu beres-beres kalau ada acara Natal-an. Teman-teman juga bantu kalau kami (murid beragama Islam) Idul Fitri dan Idul Adha," cerita Faisal kepada detikcom.
(aud/idh)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed